Rabu, 26 Februari 2014

Malam di Ganesha

Malam di atas ITB dan bendera
Malam itu saya tiba dari Cikarang. Dengan menumpang seorang kawan yang lain, lepas menuju kota yang selalu berada di ujung mata itu. Bandung. Perjalanannya lancar saja waktu itu, dan dua jam berikutnya kami sudah sampai di pelataran sebuah masjid dengan bentuk kubah terbalik di atasnya, Masjid Salman, begitu orang-orang mengenalnya. Kami turun, saya ucapkan terima kasih kepada kawan tersebut atas tumpangannya yang menyenangkan. Lalu berjalan sebentar lewati taman di selasarnya, saya menuju utara. Dengan sekarang Ganesha jadi tujuan. Di sana seorang kawan baik sedang menunggu dengan segelas kopinya yang pasti sudah habis karena setidaknya dia sudah menunggu di situ setengah jam lebih.

Dan saya tiba. Di depan sebuah gerbang besar yang benderang. Waktu di dinding itu menunjukkan 8.12, saya menuju sebuah bangun tiang bendera yang menarik. Saya dekati. Saya perhatikan yang lama. Menatap tulisan besar di dasar tiangnya yang membulat dan besar sekali. “INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG”, begitu tulisannya berbunyi. Berikut lambang sang dewa ilmu asal India itu sedang duduk bersantai tak kenal waktu dan cuaca. Saya perhatikan warna, saya perhatikan bentuk, saya perhatikan benderanya yang sudah pulang karena hari sudah malam. Menarik. Saya pikir begitu. Hingga saya memutuskan untuk mengirim sebuah pesan singkat ke kawan yang pastinya sedang menikmati kopinya di baris lapak penjaja pinggir jalan seberang sana. Tak lama kemudian, dia datang menghampiri.

Rencananya waktu itu kami akan menuju perumahan Metro di timur sana untuk menemui seorang kawan baik yang mungkin sedang bermain dengan putranya yang tengah menginjak 7 bulan. Tapi saya pikir saat itu sudah terlalu malam untuk bertamu, hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikmati malam di Ganesha saja. Pesankan dua gelas kopi susu, duduklah di atas gugusan batu-batu tua yang terpecah, menempel di pasir-pasir, membentuk pembatas taman yang sederhana. Melihat Ganesha yang seperti berasap, menghirup debu Kelud yang jauh-jauh datang dari timur sana. Sambil berkisah tentang cerita lewat, kami pikir ini adalah ide terbaik.

Kadang saya bertanya sendiri, kiranya apa yang membuat kawan tersebut mau menemani saya duduk di tempat ini, di tengah suasana yang sedikit aneh saat hampir semua orang berusaha untuk menghindar? Tapi pertanyaan itu tak kunjung saya ajukan, karena saya pikir saya sudah tahu jawabannya. Saya pikir, kadang kami hanya saling mengerti saja tanpa perlu terlalu banyak bertanya hal-hal yang mendalam. Ya, bagi saya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang rumit. Walau kadang bisa saja selesai dengan jawaban “karena saya mau!”, tapi saya pikir ada hasil olah pikir yang rumit untuk bisa menghasilkan jawaban serupa itu. Seperti pertanyaan lain: “kenapa tetap meminum kopi ini walaupun tahu kopinya penuh dengan debu Kelud?”, dan lantas menjawab “pusing amat sama debu, tinggal minum aja kok susah bener!”. Saya sepertinya tak sepakat bila ada orang lain yang beranggapan bahwa jawaban itu adalah jawaban yang tak berpikir panjang. Bagi saya itu adalah jawaban dengan kerumitan berpikir yang mengular. Walau saya tahu sebagian orang mungkin tak mampu berpikir sejauh itu.

Kami diam dan tertawa lepas bergantian. Sambil memeragakan ceritanya biar terkesan lebih hidup, kami saling mendengarkan. Seperti juga saat kawan tersebut berkomentar, “ah, kita mah jangan membahas terlalu dalam, A, nanti pusing. :D”. Kami tertawa hingga malam beranjak larut. Dan di antara jatuhan debu Kelud yang mulai berkurang, kami mulai memikirkan perjalanan pulang menuju barat laut.
Debi Krisna asik difoto. :D
Cikarang, 26 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar