![]() |
Malam di atas ITB dan bendera |
Malam itu saya tiba dari Cikarang. Dengan menumpang seorang
kawan yang lain, lepas menuju kota yang selalu berada di ujung mata itu.
Bandung. Perjalanannya lancar saja waktu itu, dan dua jam berikutnya kami sudah sampai
di pelataran sebuah masjid dengan bentuk kubah terbalik di atasnya, Masjid
Salman, begitu orang-orang mengenalnya. Kami turun, saya ucapkan terima kasih kepada
kawan tersebut atas tumpangannya yang menyenangkan. Lalu berjalan sebentar lewati
taman di selasarnya, saya menuju utara. Dengan sekarang Ganesha jadi tujuan. Di
sana seorang kawan baik sedang menunggu dengan segelas kopinya yang pasti sudah
habis karena setidaknya dia sudah menunggu di situ setengah jam lebih.
Dan saya tiba. Di depan sebuah gerbang besar yang benderang.
Waktu di dinding itu menunjukkan 8.12, saya menuju sebuah bangun tiang bendera yang
menarik. Saya dekati. Saya perhatikan yang lama. Menatap tulisan besar di dasar
tiangnya yang membulat dan besar sekali. “INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG”, begitu
tulisannya berbunyi. Berikut lambang sang dewa ilmu asal India itu sedang duduk
bersantai tak kenal waktu dan cuaca. Saya perhatikan warna, saya perhatikan
bentuk, saya perhatikan benderanya yang sudah pulang karena hari sudah malam. Menarik.
Saya pikir begitu. Hingga saya memutuskan untuk mengirim sebuah pesan singkat
ke kawan yang pastinya sedang menikmati kopinya di baris lapak penjaja pinggir
jalan seberang sana. Tak lama kemudian, dia datang menghampiri.
Rencananya waktu itu kami akan menuju perumahan Metro di
timur sana untuk menemui seorang kawan baik yang mungkin sedang bermain dengan
putranya yang tengah menginjak 7 bulan. Tapi saya pikir saat itu sudah terlalu
malam untuk bertamu, hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikmati malam di
Ganesha saja. Pesankan dua gelas kopi susu, duduklah di atas gugusan batu-batu
tua yang terpecah, menempel di pasir-pasir, membentuk pembatas taman yang
sederhana. Melihat Ganesha yang seperti berasap, menghirup debu Kelud yang
jauh-jauh datang dari timur sana. Sambil berkisah tentang cerita lewat, kami
pikir ini adalah ide terbaik.
Kadang saya bertanya sendiri, kiranya apa yang membuat kawan
tersebut mau menemani saya duduk di tempat ini, di tengah suasana yang sedikit
aneh saat hampir semua orang berusaha untuk menghindar? Tapi pertanyaan itu tak
kunjung saya ajukan, karena saya pikir saya sudah tahu jawabannya. Saya pikir,
kadang kami hanya saling mengerti saja tanpa perlu terlalu banyak bertanya
hal-hal yang mendalam. Ya, bagi saya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang
rumit. Walau kadang bisa saja selesai dengan jawaban “karena saya mau!”, tapi saya pikir ada hasil olah pikir yang rumit untuk
bisa menghasilkan jawaban serupa itu. Seperti pertanyaan lain: “kenapa tetap meminum kopi ini walaupun tahu
kopinya penuh dengan debu Kelud?”, dan lantas menjawab “pusing amat sama debu, tinggal minum aja kok
susah bener!”. Saya sepertinya tak sepakat bila ada orang lain yang
beranggapan bahwa jawaban itu adalah jawaban yang tak berpikir panjang. Bagi saya
itu adalah jawaban dengan kerumitan berpikir yang mengular. Walau saya tahu sebagian
orang mungkin tak mampu berpikir sejauh itu.
Kami diam dan tertawa lepas bergantian. Sambil memeragakan ceritanya
biar terkesan lebih hidup, kami saling mendengarkan. Seperti juga saat kawan
tersebut berkomentar, “ah, kita mah jangan
membahas terlalu dalam, A, nanti pusing. :D”. Kami tertawa hingga malam
beranjak larut. Dan di antara jatuhan debu Kelud yang mulai berkurang, kami
mulai memikirkan perjalanan pulang menuju barat laut.
![]() |
Debi Krisna asik difoto. :D |
Cikarang, 26 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar