Apa kamu pernah mendengar atau membaca sebuah candaan yang sangat menyerang, merendahkan,
atau bahkan menghina pada rumahnya sendiri? Atau malah kamu sendiri pernah melakukannya?
Banyak sekali contohnya, tapi mungkin salah satunya adalah yang diunggah oleh seorang dokter
gigi di laman sosial-medianya beberapa bulan yang lalu, tentang kebiasaan makan di
pesawat, saya masih ingat:
“Bila selesai
makan, garpu dan sendok: 1. Disilangkan = penumpang dari Amerika; 2. Sejajar =
dari Eropa; 3. Sejajar di luar piring = dari Jepang; 4. Hilang: dari Indonesia”.
Untuk kemudian dia berkomentar: “norak
banget! Malu-maluin!”
Terus-terang, saya sangat tak respect dengan orang-orang yang seperti ini. Untuk kebiasaan merendahkan
sesuatu yang jelas-jelas adalah bagian dari dirinya sendiri. Saya pikir, sepertinya
bila ditanya, maka mereka akan menjawab ringan dengan menyebut bahwa “itu memang kenyataan, kok!”. Hmmm. Iya! Bila kamu menggunakan hal
tersebut sebagai bahan introspeksi dan perbaikan, saya pikir saya akan dengan sangat senang
hati mendengarkan. Tapi bila nyatanya kamu menggunakannya sebagai bahan hinaan, maka saya pikir:
“kamu tak kalah norak dan malu-maluin
dari orang yang kamu hina!” Ya, begitu. :p
Atau beberapa kawan yang diberi rezeki untuk sekolah atau
tinggal di luar negri: SMA, S1, S2, S3, post-doct, bekerja, atau apapun. Dan saat mereka
tengah kembali ke Indonesia, mereka berkomentar dan menunjuk tentang ini-itu untuk menghina
dan merendahkan rumahnya sendiri, seolah menganggap itu semua adalah aib. Oh, my God! Kamu
adalah putra tanah ini! Kamu ke luar negeri, sekolah setinggi-tingginya, belajar
sekeras-kerasnya, menjadi seorang yang kaya dan pintar luar biasa. Tapi pernahkah
kamu bertanya sendiri pelan-pelan tentang siapa kamu?
***
Rasanya sudah sangat lama saya ingin menuliskan tulisan ini,
rasanya hampir 8 tahun belakangan, tapi sayangnya saya belum menemukan sebuah
perbandingan yang kuat. Hingga tadi malam, saat mendengar sebuah lagu
ciptaan seorang pemuda 27 tahun yang berprofesi serabutan saja: tukang parkir,
pengamen, jaga malam. Namanya Pujiono. Dia menyanyikan lagunya dengan lantang di
depan rakyat Indonesia, di atas panggung audisi Indonesian Idol 2014 -sebuah ajang pencarian bakat bernyanyi terbesar di Indonesia. Dan saya
pikir, dia dengan gagah-gemilang berhasil menampar jutaan putra-putra tercongkak negeri ini, dan mungkin juga saya adalah salah satunya. Saya pikir apa yang dia ceritakan lewat lagunya ini sangat sederhana: tentang
cinta pada rumahnya. Menunjukkan bahwa pendidikan dan rezeki yang luas bukanlah
hal yang menjamin ketulusanmu dalam mengingat dan menjalani.
Pujiono – Manisnya Negriku
Memang manis manis gula gula
Begitu juga negeri kita tercinta
Banyak suku suku dan budaya
Ada Jawa Sumatera sampai Papua
Semuanya ada di sini
Hidup rukun damai berseri seri
Begitu juga negeri kita tercinta
Banyak suku suku dan budaya
Ada Jawa Sumatera sampai Papua
Semuanya ada di sini
Hidup rukun damai berseri seri
Ragam umat umat agamanya
Ada Islam ada Kristen Hindu Buddha
Semuanya ada di sini
Bersatu di Bhinneka Tunggal Ika
Ada Islam ada Kristen Hindu Buddha
Semuanya ada di sini
Bersatu di Bhinneka Tunggal Ika
Indonesia negara kita tercinta
Kita semua wajib menjaganya
Jangan sampai kita terpecah belah
Oleh pihak lainnya
Kita semua wajib menjaganya
Jangan sampai kita terpecah belah
Oleh pihak lainnya
Pancasila dasar negara kita
Dengan UUD empat limanya
Jangan sampai kita diadu domba
Oleh bangsa lainnya
Dengan UUD empat limanya
Jangan sampai kita diadu domba
Oleh bangsa lainnya
***
Saya jadi teringat pada sebuah lagu yang saya ciptakan sendiri
di 8 tahun yang lalu. Lagunya tak terlalu bagus memang, tapi biar saja, setidaknya saya suka. :D Saat di depan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia itu
saya bernyanyi dengan kuat dan bebas saja:
“Kita satu dalam satu cinta,
Satu cintaku: Indonesia.
Bila suatu saat aku harus pergi
tinggalkan tumpah darah negeri pertiwi
Bila suatu saat aku harus pergi,
tolong biarkan cintaku tinggal di sini”
Ya! Rasanya sudah terlalu banyak orang yang tahu bahwa
saya bercita-cita sekolah di luar negeri. Saya sangat-sangat
menginginkannya. Tapi setulusnya pula saya berdoa: “Untuk Tuhan: bila dengan bersekolah di
luar negri akan menjadikan saya seorang yang menganggap rendah orang-orang di
rumah ini, maka gagalkan saja semua aplikasi beasiswa yang saya ajukan. Saya sepenuhnya rela, dan Kau tak perlu merasa tak enak hati karenanya. :)”
Bandung, 9 Februari 2014
Hwooo. bagus tulisannyo. suko Woo. :). Wo masih ingaattt nian lirik lagu yang Adek ciptakan itu. nih masih terngiang-ngiang. that's nice song, Dear. :*
BalasHapusHahaa. Good, good. ;)
Hapus