Kapan terahir bertemu
orang yang menganggap dirinya tak memerlukan orang lain untuk diajak bicara? Mungkin
sama saja saat kita bertanya mengapa orang ini terlalu suka berbicara? Lalu bertanya
lagi tentang kekurangan yang lain saat menemui seseorang yang tak cukup pendiam, juga tak cukup aktif bertanya semua hal, ini-itu. Lebih jauh, juga tak suka
sendiri, ingin ditemani. Sesekali memang berkata senang sendiri, nyatanya saat
sepi, pusing sendiri. Menjadi penanya dan pengeluh-kesah adalah kita.
Dengarkan denting senar
gitar akustik yang mengalir renyah di sela-sela hingar-bingar sepi. Senandungkan
kepak-kepak sayap serangga malam yang hilir-mudik, masuk keluar kamar. Terbang bersama
angin-angin dan sinar bulan yang tertutup awan. Menilai bagus dan tertawa suka-suka
pada apa yang kita suka, juga berekspresi sekenanya saat merasa jemu. Berlarian
di tepian pantai saat muda, berlari-larian tak lelah pula saat terserang malas. Membentak
lurus pada pengganggu dan membelai lembut pada kekasih, karena menjadi perasa
dan berekspresi adalah kita.
Menjalani wisata rohani dan
tunduk hikmat di suasana keagamaan yang sendu dan penuh pikat. Melihat bintang
jatuh untuk kemudian bertanya ada apa di luar sana, kemana dia bergerak, apakah
kesini? Saat pikiran bekerja coba masuki ruang metafisik dan roh-roh di
dalamnya, lalu berkata seolah yang lain tak pernah tahu. Kadang menyembunyikan
rasa berdosa di dalam lemari kayu di rumah yang lama, juga senang saat
menyadari yang lain tahu bila tengah berbuat kebajikan. Berketuhanan yang meragam-ragam
adalah kita.
Menembaki semesta dengan
buah pikir adalah kita.
Menerjemahkan rasa takut dalam baris doa-doa adalah
kita.
Cikarang, 17 Juni 2013
nice...
BalasHapusThanks Tika.
BalasHapus