Saya mendengar di awal malam. Rasanya saya jadi terlalu gelisah untuk tidak mengangkat
sari ceritanya ke dalam sini, sekarang juga. Tentang kegelisahan terhadap rangkaian peristiwa yang terlalu
sering terjadi di sekitar kita. Yang sayangnya kadang kita masih terlalu sibuk
untuk memikirkan hal-hal yang kadang dianggap terlalu sepele padahal nyata dan
menampar-nampar dalam beringas. Rasanya sudah ratusan kali saya mendengar
kisah-kisah nyata serupa. Lalu apa kini? Saya coba tuangkan di sini:
Pernahkah mendengar seksama satu obrolan sederhana di satu warung kopi persinggahan? Berkisah seorang bapak
dengan gerobak dorong buah-buahannya terparkir di depan warung akan keluh-kesahnya
terhadap PLN. Tentang permintaannya 6 bulan yang lalu untuk mengalirkan listrik
ke rumah gubuknya di ujung kampung. Yang sayangnya, susahnya seolah sampai ke langit! Sedang seorang
pengembang perumahan elit di kaki satu bukit itu meminta hal serupa untuk
ratusan rumah yang baru rampung dibangunnya. Itu tinggal minta di pagi hari,
dan abacadabra sorenya terang
benderang sudah, malamnya serupa siang.
Pernah mendengar seorang
tetangga di kampung yang tertangkap mencuri 3 ekor ayam jago, diteriaki maling
sampai ke langit, lalu hancur digebug massa hingga babak belur, biru padam. Mukanya lebam
sebesar tinju. Setelah polisi datang dan diamankan, diinterogasi dengan gagang
pistol membentur kening hingga berdarah mengucur di baju depan. Lalu kita
mendengar hingga bosan di semua media massa tentang mafia pajak Gayus Tambunan.
Maling triluan rupiah diketahui seluruh bangsa dari kampung hingga Istana
Negara, lenggang-kangkung nonton
kejuaraan tenis dunia dengan topi dan rambut samaran yang menjijikkan.
Pernah mendengar seorang
pasien miskin di rumah sakit mengantri di UGD 3 hari. TIGA HARI. Setelah dokter
datang melihat pakaian lusuh dan mencium bau badan pasien yang menyengat, dokter
membuang muka. Masih berlama dengan hal remeh. Apa masih perlu satu hari yang
lain untuk menunggu? Atau bila pasien akhirnya kadung meninggal dunia di teras
UGD untuk menjawab “kematian itu sudah urusan takdir?”. Ahhhh. Beda halnya saat
seorang ibu muda berdandan high class
turun dari mobil merah mewahnya diantar supirnya yang sigap dengan pakaian rapi.
Rumah sakit bertindak cepat, bergerak lebih cepat dari malaikat!
Pernah mendengar seorang
nenek penjaja gorengan keliling kecurian uang Rp 350.000 di
gubuk kecil miliknya.
Melapor ke polisi pagi itu, dan entah akhirnya polisi meneruskan laporan itu atau tidak,
saya tak pernah tahu pasti. Yang saya tahu jelas, hari itu tidak. Mau menunggu
apa lagi, Pak polisi??? You lose your
fu*king mind? Beda cerita bila seorang istri pejabat daerah kehilangan
anting dan mencurigai pembantunya yang mencuri, 30 menit kemudian 2 orang
polisi sudah tiba di depan rumah untuk menyelidiki.
***
Ini kisah-kisah nyata!
Dan masih terlalu banyak cerita serupa di keseharian kita, tetap terus berlangsung
di setiap detik saat kawan-kawan membaca tulisan sederhana ini. Yang anehnya,
apakah hanya saya sendiri yang pernah merasakan kegelisahan serupa tentang
hal-hal yang memuakkan ini? Atau semua orang juga memikirkannya, tapi kadung
merasa tak bisa apa-apa juga. Atau berpikir terlalu sekali lewat saja dan kemudian
merasa cukup? Apakah tak merasa ada yang salah?
Beberapa isi cerita dikombinasi
dengan lagu Dinding Kiripit milik Doel Sumbang
Cikarang, 15 Juni 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar