Lagi, cerita yang ditulis oleh seorang kawan.
Ditulisnya atas kejadian hari itu, 27 Juli 2013, menjelang buka bersama di
Mesjid Al-Marjan, Kota Depok. Silahkan membaca, ;)
***
Ihsan, Nama seorang anak yang menurut saya luar biasa.
Baru duduk di kelas dua SD, mungkin berumur sekitar 8 tahunan. Dan alhamdulillaah saya dipertemukan oleh Allah SWT dengannya,
dan memetik hikmah dari kejadian tersebut.
Sebelumnya saya tidak mengira kalau dia adalah seorang
anak yatim. Sangat aktif, dominan dibandingkan anak-anak lain, bahkan dengan
anak-anak kompleks perumahan itu sendiri. Komunikatif,
pandai berbicara, tidak canggung atau malu berhadapan dengan orang dewasa,
periang, punya juga rasa keingintahuan yang tinggi, dll. Jujur saja, saya belum
pernah bertemu sosok anak yatim sepertinya.
Pertanyaan dalam hati saya adalah, "bagaimana
cara atau pola pendidikan yang diberikan oleh ibunya?" Dalam keadaan yang
serba kekurangan si ibu bisa mendidik Ihsan sehingga memiliki karakter yang
menurut saya luar biasa. Karena pertemuan dengan sang ibu yang singkat, hanya
kurang dari lima kata saja yang terucap dari beliau. Maka, pertanyaan itu masih
menggantung. Sangat membuat penasaran.
Saya flashback beberapa saat sebelum Ihsan menjadi
perhatian saya:
Pada saat penyajian materi "Anak Hebat Indonesia" Ihsan tidak mau diam, bergerak terus, kadang bernyanyi, berlari-lari, kadang bercanda ria dengan anak-anak lainnya, apa saja dia lakukan. Dalam hati saya berkata, "ini anaknya siapa? Kok dibiarkan berisik dan gaduh, sedikit menganggu konsentrasi saya saat itu. Saya harus berbuat sesuatu!", Saya menghampirinya dan saya sebut namanya (sesuai tulisan di dada sebelah kirinya). Saya pegang kedua pipinya dengan lembut sambil berbisik, "nak, diam ya, duduk manis nanti pak Asep kasih hadiah." Alhmadullillah ternyata cukup efektif. Waktu terus berjalan.
Pada saat sesi pertanyaan untuk anak-anak, Ihsan pada saat itu belum dapat giliran menjawab, dan sepertinya dia ingin sekali hadiah yang saya janjikan. Ihsan maju ke depan tanpa saya minta sambil mengacungkan tangan kanannya, seraya berkata "Pak Asep saya mau jawab pertanyaan dan mau hadiahnya". "Ok, siap jawab pertanyaan saya Ihsan? Dek Ihsan tahu nggak makanan rendang? Nah, makanan itu menurut mu harum atau bau?", Ihsan menjawab "harum Pak, dan saya suka rendang!" Diperolehnyalah hadiah itu dan terlihat gembira. Akhirnya sesi materi selesai dan dilanjutkan acara berikutnya sampai buka puasa bersama. Saya lebih memilih air putih dan empat buah kurma, sedang sosok Ihsan hanya lewat saja tanpa ada hal-hal yang berarti.
Setelah shalat magrib berjamaah, kami diarahkan ke
gedung Islamic Center-
Ground Floor bangunan
masjid untuk makan bersama panitia, undangan dan anak-anak. Saat itu kami duduk
dengan para orang tua, panitia dan sesepuh lingkungan tersebut. Tiba-tiba sosok
Ihsan mengagetkan saya dengan menepuk punggung bagian kanan dan berkata
"Pak Asep, kemana saja? Tadi saya cari-cari. Oh ya, Pak Asep tadi beli
dulu nasi padang (pake rendang, red)
ya?" sambil mengambil posisi persis di samping kanan saya. "Iya"
jawab saya. Dia menyambung, "Bapak ingat nggak, saya kan suka rendang
pak", "oh iyaaa, Ihsan mau?" tanya saya. Dia langsung menjawab,
"mau pak, tapi sedikit saja dan sekalian lalap daun singkongnya, sambelnya
jangan karena saya nggak terlalu suka pedas. Dan ini sambal ayam bakar punya
saya untuk Pak Asep saja". Hahaa. Ini mulai menarik. Dia berbicara bak orang dewasa. Kalimatnya mengalir.
Saya mulai takjub. Pada saat makan inilah ter-expose Informasi
tentang dia adalah yatim, tinggal di mana, ibunya kerja apa, sosok ayahnya
bagaimana, kelas berapa, sampai yang membuat saya miris adalah: dia bercerita
spontan tentang perilaku kasar dan tidak baik almarhum ayahnya terhadap ibunya
selama hidup. Seakan-akan dia merekam semua kejadian itu dan keluar dari mulut
kecilnya ketika berbicara dengan seseorang. Saya tidak tahu, kepada siapa saja
anak ini bercerita pengalaman hidupnya ketika ayahnya masih hidup?.
Kejadian ini bisa menjadi peringatan bagi para orang tua yang berlaku kasar kepada anak-anak mereka. Coba tebak? Apa yang dilakukannya terakhir sebelum acara makan itu selesai? Dia mencoba menghibur saya dan teman saya Kang Irfan. Emhh, dia memasukkan sebanyak-banyaknya nasi, ayam dan sayuran ke mulutnya. Kemudian dia mengarahkan telunjuk kanannya mengarah pada wajahnya sambil berkata-kata yang tidak jelas. Saya bertanya, "Kenapa Ihsan? kamu bicara apa?". Kemudian dia memperjelas ucapannya, "Pak, seperti ini lah kalau bapak saya makan", sambil berusaha tertawa kemudian tersedak dan trus ambil minum. Ternyata dia masih menyimpan kenangan manis dari sang ayah yang pernah menghiburnya pada saat makan, walau kesehariannya lebih banyak mendapat contoh perbuatan yang kurang baik.
Memori anak lebih dahsyat dari super komputer manapun!
Sekecil apapun gerakan, ucapan dan tindakan orang tua, akan mereka rekam semua
tanpa kecuali. Semua diserap tanpa ada filter dan pemilahan mana yang baik, mana
yang tidak baik? Maka kawan, ketika kita tengah berada di depan anak-anak kita,
berusahalah berucap, bertindak, berakhlak baik dan menjadi figure yang baik.
Teman-teman, saya minta doanya semoga Ihsan akhirnya
bisa tumbuh dan mendapat pendidikan yang bagus sehingga bisa menjadi Anak Hebat
Indonesia. Dan jika ada kawan-kawan yang tertarik untuk membantunya, silahkan
menghubungi DKM Mesjid Al-Marjan, Permata Depok Regency, Ratu Jaya, Cipayung,
Depok. Insya Allah DKM akan diberikan alamat rumahnya.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari apa-apa yang
diperlihatkan oleh Allah SWT kepada saya hari itu. Dan semoga kita digolongkan
menjadi orang-orang yang selalu berpikir.
Ditulis oleh: Asep Aripin.
Ah, memang selalu seperti itu, Kang. Pelajaran selalu datang kapanpun dia mau. Asal kita mau melihat sedikit lebih teliti, melihat di setiap ringannya cerita yang tersaji sehari-hari. Sedang Ihsan, tenang saja, dia akan tumbuh seperti seharusnya. Dia akan jadi besar di jalannya sendiri. :)
BalasHapus