![]() |
Bukit rendah di timur gerbang Jayagiri |
Adalah sebuah desa di kecamatan Lembang, Bandung Barat. Namanya
Jayagiri. Nama suatu daerah yang menjadi lebih dikenal berkat sebuah lagu berjudul
“Melati dari Jayagiri”, gubahan seorang seniman dan pendaki gunung senior asal
kota Bandung, abah Iwan Abdurrahman, di tahun 1968. Saya tak akan membahas
kontroversi seputar lagu ini di sini, karena saya benar tak terlalu peduli tentang
ada atau tidaknya tangkai melati di Jayagiri. Tapi yang jelas, baris sajak di lagu ini
memang dengan gemilang berhasil menggambarkan keindahan Jayagiri dengan luapan
emosi yang tak sedikit. Atau juga lagu “Jayagiri” karya Doel Sumbang yang
menggambarkan Jayagiri sebagai sebuah cerita cinta. Ah, sama bagusnya saya kira.
Saya sendiri selalu mengingat Jayagiri sebagai gugusan aneka
pepohonan hijau di lembah-bukitnya berikut kumpulan cerita yang asik di suatu
pagi yang biasa. Di dalamnya juga aliran sungai jernih yang beberapa, dan
angin-angin dari Tangkuban di atas sana. Dulu, saya biasa tiba di tempat ini di
kisaran jam 6 pagi. Saat udara sekitar masih sedikit terlalu dingin, dengan suara
fauna nocturnal hutannya yang sekali-kali,
dan pos penjaga gerbang yang masih kosong. Begitu yang selalu saya ingat,
selepas baris mahoni meraksasa di sepanjang jalannya menuju ke sini hampir habis
di pelataran gerbang beratap ilalang itu.
Saya akan lebih senang berdiam di
Jayagiri di sekitar sini saja. Di dekat sebuah warung penjaja sarapan sederhana
tak jauh dari gerbang - ah, ternyata saya sudah lupa nama ibu penjaga warungnya,
mungkin saya memang sudah terlalu lama tak mampir ke sana, heheu. Di sini,
mungkin tak banyak yang tahu ada gugusan Eucalyptus di bawah sana, juga aliran
sungai kecil memanjang sejernih-jernih bermuara ke suatu pesawahan sempit dan keluarga
pak tani di salah satu sudutnya. Atau bentukan bukit di belakang sana dengan kemiringan tanahnya yang lebih rendah,
saat bergoyang gesekan dedaun pinusnya ditiup angin pagi musim kemarau, hingga
terdengar tiupan serupa bunyi seruling mengiang di reguk kopi yang tadi dibawa-bawa
dari bawah sana.
Ya, saya memulai mengenal Jayagiri
dari titik ini. Saat itu belumlah berniat langsung menapaki setapak jalanan menanjak menuju utara yang
berliku dan rasa lelahnya yang hampir pasti. Saya memilih berdiam saja sedikit
lebih lama di sekitar sini. Saya merekam, saya memperhatikan. Saya berpikir, bila
nanti saatnya tiba, saya akan mencoba menapaki Jayagiri lebih jauh dari sini,
tapi kini tak perlulah terburu-buru dulu. Begitu saya berpikir waktu itu. :)
Cikarang, 30 September 2013