Saya mendengar kabar, Bandung sore ini diguyur hujan. Ah, mendengarnya
saja saya sudah senang. Entah bagaimana saya merasa seperti sangat diberkati
saat melihat hujan sore mengguyur kota itu. Tak peduli saya melihatnya dari
titik mana, tapi saya pikir hujan di kota itu semuanya mirip, seperti itu. Seperti
sesuatu yang mendamaikan, berikut nuansa riang-gembiranya yang menyatu dalam
tarian sore anak-anak yang berlarian di tengah hujan. Benar begitu saya menilai dan mengingatnya. :)
Sekarang teringat, bahwa hampir sebagian besar tulisan saya
dulu-dulu bercerita tentang hujan di Bandung tengah sore. Tentang apa saja. Seperti
tulisan yang saya tulis di akhir 2008 ini. Kalau tak salah, saya
menulisnya di bulan Oktober 2008 di kampung yang ceria itu, Cilimus. Saat sendiri
melihat hujan mengguyur Bandung dengan gembira. Saya masih ingat, di siangnya
yang mendung itu saya lepas berjalan kaki dari Kampus Gajah di tengah kota.
Melepas letih, saya tidur-tiduran tapi tak kunjung juga jatuh terlelap. Dan saat
rintik hujan satu-satu mulai turun dan terdengar, saya keluar. Duduk sendiri di depan
teras kamar kos-kosan, di hadapan pot bunga krisan merah tua yang saya rawat dari pedagang
bunga di depan itu. Ah, masa itu. Saat-saat dimana saya mulai merasa bahwa
belajar itu adalah tentang suka-suka. :)
Cikarang, 27 September 2013
***
Kabar Dari Bandung
Bulir-bulir hujan turun jatuh pada serangkaian bunga
mangga yang menggantung.
Jadikan tetesannya satu-satu yang ramai sekali saat
jatuhannya mampir di tiap sudut-sudut daun.
Kemudian meneteslah lagi.
Mengalirlah sampai jauh sekali.
Wahai Sang Panembrama.
Kau tahu, saat ini hujan datang, dan ceritapun datanglah.
Ditemanimu dalam gerak diam burung-burung pembawa
risalah hujan.
Menembang cerita keseharian tanah ini yang ramah dalam
tepa slira, senyum penghias, serta dialog singkat tapi selalu saja sarat hikmah.
Menambah jelang sejoli, bergerak cintanya, kala tersenyum,
tawa, serta malu-malunya asik berniaga dengan jutaan kisah kasmaran.
Asik berniaga dengan jutaan basahnya sore Priangan
diguyur hujan.
Bandung, akhir 2008
Wo kurang suko hujan dalam arti yang sebenarnyo,,, jadi teringat jalan balik ke kosan dan sepatu merah,,, ;),,, tapi tulisan Adek tentang hujan, Wo suko,,, :),,, mmuachhh,,, :*
BalasHapuslangsung buang sepatunyo, ahahaa, :p
BalasHapusha5x,,, :D
BalasHapus