Selasa, 06 Agustus 2013

A. Bareto Simalango

2006, Danau Ujan Mas. Saat jalan-jalan bertiga dengan pacarnya, yang sekarang jadi istrinya :)
Saya punya kawan masa kecil. Nama lengkapnya Tito Apiko Bareto Simalango. Saya punya panggilan sendiri untuknya, Kuang. Tapi sepertinya lebih baik saya tidak menjelaskan asal-muasal nama panggilan itu, hal lucu tapi sebenarnya kurang bijak. :) Saya mengenalnya setelah di suatu bulan di tahun 1994 dia dan keluarganya menjadi salah satu tetangga baru kami. Ayahnya dari suku Batak, tepatnya daerah Samosir, dan Ibu dari suku Rejang, asli dari daerah Lebong. Semua orang di daerah kami akhirnya mengenalnya dengan panggilan Bang Tito. Bocah kecil dengan perawakan gendut kulit kuning, tiga tahi lalat di pipi berjajar hampir membentuk diagonal sempurna, rambut ikal hitam legam, ekspresi tawa yang khas, dan penggembira. Dia tengah duduk di kelas 2 SD saat itu, sedang saya kelas 4 SD. Hingga akhirnya kami tetap saling mengenal hingga hari ini. Bila dihitung, saya sudah mengenalnya hampir 20 tahun hari ini.
Cerita masa kecil kami adalah cerita anak-anak. Tingkah-polah anak laki-laki yang terbiasa. Kami tertawa senang, kami menangis sekerasnya, kami tetap coba berlari saat ketakutan mengejar dan rasa lelah, kami berdiam meliat gerak layangan di barisan awan di atas rumput hijau dan Albasia raksasa, kami mencuri dan senang saat tak ada yang tahu, kami berbuat baik sekemampuan kami, ah banyak sekali. Banyak sekali. :)
Cerita beranjak remaja kami adalah cerita itu. Saya mengetahui banyak hal tentang dia. Seperti juga sebaliknya. Meski saat saat itu, kami tidak terlalu dekat. Tapi jangan artikan itu sebagai jauh. Tidak. Kami tetap saling berkunjung hampir setiap hari, tapi memang tidak setiap saat, seperti masa kecil kami dulu. :)
Cerita beranjak dewasa kami begitu. Semenjak lepas SMA saya merantau ke tanah Sunda. Dan pasti kami jadi sangat jarang bertemu, atau saling berkirim pesan singkat. Hanya saat saya pulang lebaran atau libur panjang semester genap saja kami bertemu. Apalagi saat dia dan keluarganya akhirnya pindah ke Lebong, tanah leluhur ibunya. Hingga tak setiap tahun juga kami bisa bertemu. Tapi kami tak pernah mempermasalahkan itu. Kami mulai mengerti bahwa berkawan bukanlah tentang dekat dalam jarak, tapi lebih dari itu. Kami senang untuk bisa mengerti.
Dan saat ini, saat Ramadhan berada di penghujungan, saya mengingatnya lagi. Menanyakan kabarnya dan buah hatinya yang semoganya selalu sehat dan senang. Ucapkan selamat lebaran seperti setiap tahun semenjak saling mengenal hingga kini. Berucap semoga rezekinya tetap mengalir baik, tak kurang apapun. Begitu saja. :)
Selamat Rayo, Wang. :)
Cikarang, 7 Agustus 2013

2 komentar:

  1. Adek dan Abang,,, :-),,, nice memories,,, :),,, "Lah kan, hari ini hari Ibu,,," Salah satu kutipan percakapan terbaik antara Sang Wanita yang paling Q hormati dan Abang,,, :)

    BalasHapus