Senin, 19 Agustus 2013

Malam di Perjalanan

Teringat di beberapa malam yang lewat. Saat berdua menyusuri panjangnya jalanan Cimahi-Ledeng. Berjalan kaki kami, menapaki jalanan yang ramai dengan kendaraan kesana-kemari serta gemuruh klaksonnya yang meriah. Lalu berbelok sejenak melewati suatu blok perumahan yang tenang-tenang. Kemudian bertemu lagi jalanan luas yang gelap dan sepi, meretas jalanan undak tanah di bawah rimbunan bambu yang gulita. Terkadang terlalu gelap malah, lalu nyalakan sebentar penerang dari handphone itu, hanya biar terlihatlah gelombang tanah yang berjarak, biar tak tersandung nanti, jatuh, lalu tersungkur. Semoga janganlah sampai seperti itu. Kami meniti dalam hati-hati, kewaspadaan sehari-hari. Di sepanjangnya, kami berdialog. Bercerita apa saja. Tapi umumnya mendengar kawan tersebut bercerita. Saya dengarkan. Kadang memberi komentar sedikit, kadang iyakan saja. Biar lebih tenang dia bercerita, ungkapkan apapun yang dia mau. Suasananya begitu.

Di depan sebuah warung modern itu, kami berhenti. Lepas lelah sejenak, duduk di terasnya yang benderang. Sedang angin Ciwaruga seperti sebelumnya lemparkan pesonanya dalam genit yang menggoda. Menyapa sekujur tubuh dari muka sampai semua. Kami lanjutkan lagi diskusi tadi. Diskusi yang memang tak kan pernah bisa berujung sepertinya, saya tetap mendengarkan. Komentar satu-satu bukanlah apa-apa. Silang pendapat, kadang sedikit emosi, ah itu biasa. Kami bertukar pikir, kami tak pernah saling memaksa. Karena memang terkadang menyamakan keyakinan bukanlah tujuan yang terlalu bijak sepertinya. Kami jalani saja, berikut malamnya yang semakin meninggi, hampir ke puncaknya kini.

Dan akhirnya, sebuah bangunan Taman Kanak-Kanak di pelataran masjid itu menjadi muaranya. Serupanya air-air gunung yang bermuara di lautan bebas, kami berbaring di terasnya. Mencoba mengartikan kembali diskusi tadi-tadi serba pribadi kini. Sadar bahwa kami tak pernah benar saling tahu apa yang terpikirkan masing-masingnya. Saya tersenyum saja akhirnya. Saya merasa cukup. Entah dengannya, semoga iya. Meski mungkin akan menjadi sedikit lebih rumit dari caranya memandang, tapi biarkan, itu hanya soal cara memandang. Toh, perjalanan ini bukanlah untuk mencari apa yang seharusnya. Tapi untuk menjalani sebuah cerita sederhana pembawa tidur kami yang tak kunjung datang hingga dini hari. Dan lepas lamun sarat nilai yang menyatu sempurna pada dingin malam Geger Kalong yang selalu saja bijaksana mengajak mengaji dalam teliti dan kerendahan hati.
Bersama Gelar Taufiq Kusumawardhana
Cikarang, 19 Agustus 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar