Teringat di beberapa malam
yang lewat. Saat berdua menyusuri panjangnya jalanan Cimahi-Ledeng. Berjalan kaki
kami, menapaki jalanan yang ramai dengan kendaraan kesana-kemari serta gemuruh klaksonnya yang meriah. Lalu
berbelok sejenak melewati suatu blok perumahan yang tenang-tenang. Kemudian bertemu lagi jalanan luas yang gelap
dan sepi, meretas jalanan undak tanah di bawah rimbunan bambu yang gulita. Terkadang
terlalu gelap malah, lalu nyalakan sebentar penerang dari handphone itu, hanya biar
terlihatlah gelombang tanah yang berjarak, biar tak tersandung nanti, jatuh, lalu tersungkur. Semoga janganlah sampai seperti itu. Kami meniti dalam hati-hati,
kewaspadaan sehari-hari. Di sepanjangnya, kami berdialog. Bercerita apa saja. Tapi
umumnya mendengar kawan tersebut bercerita. Saya dengarkan. Kadang memberi
komentar sedikit, kadang iyakan saja. Biar lebih tenang dia bercerita,
ungkapkan apapun yang dia mau. Suasananya begitu.
Di depan sebuah warung
modern itu, kami berhenti. Lepas lelah sejenak, duduk di terasnya yang
benderang. Sedang angin Ciwaruga seperti sebelumnya lemparkan pesonanya dalam genit yang menggoda. Menyapa sekujur
tubuh dari muka sampai semua. Kami lanjutkan lagi diskusi tadi. Diskusi yang
memang tak kan pernah bisa berujung sepertinya, saya tetap mendengarkan. Komentar satu-satu
bukanlah apa-apa. Silang pendapat, kadang sedikit emosi, ah itu biasa. Kami bertukar
pikir, kami tak pernah saling memaksa. Karena memang terkadang menyamakan keyakinan
bukanlah tujuan yang terlalu bijak sepertinya. Kami jalani saja, berikut
malamnya yang semakin meninggi, hampir ke puncaknya kini.
Dan akhirnya, sebuah
bangunan Taman Kanak-Kanak di pelataran masjid itu menjadi muaranya. Serupanya air-air
gunung yang bermuara di lautan bebas, kami berbaring di terasnya. Mencoba mengartikan
kembali diskusi tadi-tadi serba pribadi kini. Sadar bahwa kami tak pernah benar
saling tahu apa yang terpikirkan masing-masingnya. Saya tersenyum saja
akhirnya. Saya merasa cukup. Entah dengannya, semoga iya. Meski mungkin akan menjadi
sedikit lebih rumit dari caranya memandang, tapi biarkan, itu hanya soal cara memandang. Toh, perjalanan ini bukanlah untuk mencari apa yang seharusnya. Tapi
untuk menjalani sebuah cerita sederhana pembawa tidur kami yang tak kunjung datang
hingga dini hari. Dan lepas lamun sarat nilai yang menyatu sempurna pada dingin
malam Geger Kalong yang selalu saja bijaksana mengajak mengaji dalam teliti dan
kerendahan hati.
Bersama Gelar Taufiq Kusumawardhana
Cikarang, 19 Agustus 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar