Sabtu, 10 Agustus 2013

Purnawarman Seberang Jalan

Malam di Jalan Purnawarman, Bandung.
Malam yang panjang-panjang. Melihat-lihat barang yang saya suka di mall elektronik itu, Bandung Elektronik Center. Tak akhirnya membeli, saya putuskan pulang saja. Waktu sudah pukul 20.30. Langit di luar cerah, dingin khas kota ini. Tarik nafas tiup sebentar. Saya melihat Bandung. Jalan Purnawarman sebegitu biasa. Saya berjalan turun pelan-pelan. Beranjak ke seberang jalan, dengan Tubagus Ismail sebagai tujuan malam ini. Sebuah rumah dari seorang kawan yang baru saja akan saya kenal, lewat seorang kawan yang lain. Dan di bawah baris Mahoni raksasa itu, saya melihat sekali ke belakang. Terlihat sebuah pemandangan yang saya ingat betul. Itu 10 tahun yang lewat. Ah, tak terasa memang. Nyatanya itu sudah lewat selama itu. Tapi ingatan saya masih sejelas aslinya.

Sore itu, Juni 2003. Dengan diantar oleh kakak sepupu dengan menggunakan angkutan perkotaan berwarna biru muda bertulis Caringin-Sadang Serang, akhirnya saya berkumpul di satu titik di Gramedia Jalan Merdeka Bandung. Di situ, saya sudah ditunggu oleh beberapa kawan satu SMA dari Curup. Kami semua baru tiba di Bandung 2-3 hari sebelumnya. Kami begitu tertarik untuk menjelajahi kota ini. Dan dimulainya dari saat itu saja. Lanjutnya kami belanja mata, melihat-lihat aneka barang-barang yang menarik. Sedang seorang kawan akhirnya menuju BEC membeli sebuah handphone baru, Nokia 2100 berwarna biru. Saya masih ingat, kawan tersebut terlihat sangat gembira dengan handphone barunya itu. :) Selepasnya, kisaran jam 5 sore, kami berjalan ke seberang jalan. Kami mampir di gerobak batagor pinggir jalan itu, beberapa memesan, lalu memakannya di atas kursi-kursi plastik atas trotoar dalam gembira, sambil melihat ke pemandangan Bandung dari sudut itu. Satu pemandangan yang sama dengan yang saya lihat malam ini. :)

Meski tak lapar, akhirnya saya berhenti malam ini, hampiri satu gerobak pinggir jalannya, Bapak pedagang baso tahu itu. Saya pesan satu porsi. Menyantapnya di atas kursi plastik pada kerlip terang, sambil melihat detail kejadian 10 tahun yang lewat dari sudut ini. Mengingat bagaimana saya berpikir waktu itu. Mengingat bagaimana saya berpikir saat ini. Mungkin saya mampu berpikir lebih mapan saat ini. Tapi saya sepertinya bisa berpikir lebih murni waktu itu. Diiring segenap perjalanan yang pernah dilalui, saya menyadari bahwa waktu memang guru yang super-menarik. Diprosesnya seseorang dari mapan menjadi murni, pun diajarnyanya seseorang dari murni menjadi mapan. Berpikir mana yang baik? Lalu menjawab, “ah tak perlu seperti itu juga”. Bahwanya hidup bukan untuk menentukan mana yang lebih dari yang lain. Biarkan dia berjalan seiring ajar, lalu akhir ceritanya mencerminkan siapa saya. Mencerminkan bagaimana saya yang sebaiknya.
Bandung, 10 Agustus 2013

2 komentar: