![]() |
Malam di Jalan Purnawarman, Bandung. |
Malam yang
panjang-panjang. Melihat-lihat barang yang saya suka di mall elektronik itu,
Bandung Elektronik Center. Tak akhirnya membeli, saya putuskan pulang saja. Waktu
sudah pukul 20.30. Langit di luar cerah, dingin khas kota ini. Tarik nafas tiup
sebentar. Saya melihat Bandung. Jalan Purnawarman sebegitu biasa. Saya berjalan
turun pelan-pelan. Beranjak ke seberang jalan, dengan Tubagus Ismail sebagai
tujuan malam ini. Sebuah rumah dari seorang kawan yang baru saja akan saya
kenal, lewat seorang kawan yang lain. Dan di bawah baris Mahoni raksasa itu,
saya melihat sekali ke belakang. Terlihat sebuah pemandangan yang saya ingat
betul. Itu 10 tahun yang lewat. Ah, tak terasa memang. Nyatanya itu sudah lewat
selama itu. Tapi ingatan saya masih sejelas aslinya.
Sore itu, Juni 2003. Dengan
diantar oleh kakak sepupu dengan menggunakan angkutan perkotaan berwarna biru muda bertulis Caringin-Sadang Serang, akhirnya saya berkumpul di satu titik di Gramedia Jalan
Merdeka Bandung. Di situ, saya sudah ditunggu oleh beberapa kawan satu SMA dari
Curup. Kami semua baru tiba di Bandung 2-3 hari sebelumnya. Kami begitu
tertarik untuk menjelajahi kota ini. Dan dimulainya dari saat itu saja.
Lanjutnya kami belanja mata, melihat-lihat aneka barang-barang yang menarik. Sedang seorang kawan
akhirnya menuju BEC membeli sebuah handphone baru, Nokia 2100 berwarna biru. Saya
masih ingat, kawan tersebut terlihat sangat gembira dengan handphone barunya itu. :)
Selepasnya, kisaran jam 5 sore, kami berjalan ke seberang jalan. Kami mampir
di gerobak batagor pinggir jalan itu, beberapa memesan, lalu memakannya di atas
kursi-kursi plastik atas trotoar dalam gembira, sambil melihat ke pemandangan Bandung
dari sudut itu. Satu pemandangan yang sama dengan yang saya lihat malam ini. :)
Meski tak lapar, akhirnya
saya berhenti malam ini, hampiri satu gerobak pinggir jalannya, Bapak pedagang baso
tahu itu. Saya pesan satu porsi. Menyantapnya di atas kursi plastik pada kerlip
terang, sambil melihat detail kejadian 10 tahun yang lewat dari sudut ini. Mengingat
bagaimana saya berpikir waktu itu. Mengingat bagaimana saya berpikir saat ini.
Mungkin saya mampu berpikir lebih mapan saat ini. Tapi saya sepertinya bisa
berpikir lebih murni waktu itu. Diiring segenap perjalanan yang pernah dilalui,
saya menyadari bahwa waktu memang guru yang super-menarik. Diprosesnya seseorang
dari mapan menjadi murni, pun diajarnyanya seseorang dari murni menjadi mapan. Berpikir
mana yang baik? Lalu menjawab, “ah tak perlu seperti itu juga”. Bahwanya hidup
bukan untuk menentukan mana yang lebih dari yang lain. Biarkan dia berjalan seiring
ajar, lalu akhir ceritanya mencerminkan siapa saya. Mencerminkan bagaimana saya
yang sebaiknya.
Bandung, 10 Agustus 2013
Sukaaa,,, :*
BalasHapusTerimakasihterimakasih. :)
BalasHapus