Kamis, 08 Agustus 2013

Bicaralah Dengan Emosi

Berbicaralah dengan emosi. Karena dengan begitu kau akan merasa  hidup. Sesederhana melihat gugusan gunung-gemunung ini dengan tatapan yang serba khas di atas jalanan layang di titik ini. Dilingkupinya sendu dari angin-angin yang lewat, disayanginya lembah dari hiruk-pikuk misteri dari balik gunung. Lalu awan-awan mendungnya yang datang, kau biarkanlah dalam emosi. Basahi genap tubuhmu merayu juga pikiran yang menari. Dan kau merasa nyata.

Berbicaralah dengan emosi. Tak perlu terlalu panjang kau tetapkan arah bicara. Tunjukkan nada-nada yang lugas, yang tak harus selalu bikin kau senang. Karena hidup bukan melulu tentang merasa senang, tapi lebih komplekslah dari itu. Seperti udara malam di perumahan ini yang sama-sama saja. Dengan yang lain saat kau bermain api di puncak Sanggara yang agung. Di antara hujan lebat yang menghajar garang, kau tak pernah takut.

Berbicaralah dengan emosi. Hingga bicaramu terasa bukan lanturan kosong yang miskin nilai. Karena nyatanya semua yang terus ada tak pernah dibagi dalam bicara ataupun tidak. Atau cara penyampaian yang serius juga canda-canda. Atau tentang lamanya yang sama-sama. Tapi seperti bibir yang terasa ada dengan kecup mesra. Kau pun tahu. Bisa memilahnya dari rasa, bisa pisahkannya dari genapan rangkai ungkapan.

Bicaralah dengan emosi. Biar tiup angin terasa nyata. Biar rinai hujan terasa basah.
Bandung, 9 Agustus 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar