Malam di sini. Jalan
Panday, Cimahi. Tempat saya menghabiskan malam takbiran Ramadhan kali ini. Di
rumah seorang kawan yang tengah sibuk menyelesaikan tugas menulis untuk tugas
akhir seorang yang lain. Katanya, besok tulisan itu harus selesai. Saya tidak
terlalu tahu pastinya. Tapi sepertinya tentang uang juga. Besok lebaran kan ya?
:)
Di awal malamnya
dihabiskan mendengar cerita-cerita sunda yang menggelikan. Kami tertawa. Senang
mendengar tokoh sunda tersebut berkisah tentang apa saja. Kami dengarkan.
Diselingi makan malam lagi, kami dengarkan lagi. Berikut gelas kopi yang sudah
habis dua, ceritanya berlanjut.
Pergilah sebentar menuju
warung modern itu, sekedar membeli kopi dan persediaan malam ini. Sepintas di
beberapa masjid besar, dan anak-anak juga dewasa melingkar di tengahnya menyanyikan
puja-puji. Juga pemandangan sekeliling Kota Tentara ini di antara hiruk pikuk
takbir yang teralun di pengeras suara masjid di sana-sini. Melihat pula
kumpulan muda-mudi warna-warni berkumpul meminum alkohol dalam semarak. Aromanya
santar, siapapun pasti tahu. Dan kami lewat saja.
Menjadi bertanya, apakah
malam takbiran itu? Sebenarnya saya belum terlalu mengerti. Tapi saya
senang-senang saja lewatinya. Beberapa definisikan sesederhana malam di
jutaan takbir menyebar di udara hingga matahari datang besok, dan hari
kemenangan itu tiba. Akan berduyun-duyunlah menuju masjid dan tanah lapang yang
wangi-wangi. Sebagian orang menang. Entah apa yang menang. Mungkin sesederhana
memenangkan rasa gembira di antara yang lain.
Uang, dengarkan
dongeng, makan malam yang semangat, muda-mudi berpesta jalanan, gema takbir-puja-puji.
Saya pikir itulah malam takbiran. Yang meski tak tersebut, lamunan yang hingga
jauh menuju rumah merah jambu yang sepi di jauh sana, di antara lampu penerang
jalannya yang redup-redup di depan sana.
Cimahi, 7 Agustus 2013
Rumah merah jambu itu akan selalu mengenangmu, Sayang,,, :*
BalasHapus:)
BalasHapus