Di atas Damri bertulis
jurusan Dago-Leuwi Panjang itu akhirnya saya beranjak dari sini, Jalan Dipati Ukur, Bandung. Sengaja saya memilih duduk di baris bangku sisi kanan dekat jendela ini. Tujuannya sederhana, biar lebih lepas melihat jalan-jalan terlewat, biar perjalanannya tak bosan.
Hingga saat bus mulai berjalan, dan penumpangnya yang semakin penuh. Bus mulai
merangkak pelan, menyusuri jalanan pelan-pelan. Ah cocok sekali saja pastinya,
untuk orang-orang yang tak tengah dikejar waktu, ingin melihat hari membelah Bandung.
Bus masuklah di Jalan
ini. Namanya Jalan Ir. Juanda. Sebuah
nama yang diambil dari seorang pahlawan nasional asal Jawa Barat, Ir. Rd.
Juanda Kartawijaya. Daerah ini juga dikenal sebutan Dago, Jalan Dago, Jalan
Juanda, sama saja. Sebuah jalan memanjang dari utara jauh hingga ke bertemu Jalan
Merdeka di bawah sana. Sudah sejak lama jalan ini menjadi ikon kota Bandung atas aktivitas
malam minggunya yang semarak. Saat muda-mudi ramai berkumpul habiskan malam dengan
jajanan jalanannya yang khas, acara-acara live
radio, anak-anak SMA laki-perempuan dengan dandanan kelas atas mengamen
senang-senang di sepanjang jalan, juga serakan bapak-ibu penjaja bunga segar di lampu-lampu
merah, dan banyak lagi. Sayangnya saat ini saya tak akan bercerita khusus
tentang malam minggu di sini. Bukan itu fokusnya. Tapi meski begitu, mau tak mau, semua
dimensi itu akan kontan melintas saja saat nama Jalan Dago disebut, atau
sekedar diingat.
Sore ini, saat langit
Bandung tengah malu-malu. Sepertinya mendung, gelap sebentar, lalu terang lagi,
sedang mendungnya tetap saja. Melintas di bawah Pasupati yang romantis itu,
terlihat aman Dago diramaikan oleh beberapa anak-anak laki-perempuan umuran
SMP-SMA berlatih skateboard di
sekitar taman. Saya berpikir: “ah sore ini semua sedang senang sepertinya :)”,
sedang bus ini tetap menjauh, melanjutkan ceritanya sediri. Lagi yang lain, kali ini Gampoeng Atjeh, Dago Plaza,
apotik di simpang jalan itu, ah warna-warni! Kuning-hijau-merah-biru. Dago
warna-warni. Senang sekali.
Masih asyik sendiri
menikmati senang sepanjang lintasan Damri, saya berpikir lagi: “ah, saya mau
yang lebih! Ingin yang lebih lagi, biar lebih senang, apa saja!”. Nyatanya tak lama kemudian di awal Jalan
Otista, sebuah singkatan umum yang mengacu ke nama pahlawan Oto Iskandar
Dinata, naiklah dua pengamen jalanan berpenampilan tak meyakinkan, dengan tato
abstrak di lengan kanannya yang kurus juga topi lusuh hitam itu. Satu dari mereka membawa ukulele, semacam gitar kecil yang umum
dipake pengamen jalanan kota ini, sedang satu lagi memegang djembe sederhana ukuran medium. Mereka mulailah saat itu, berduet. Tegang tiap
senar yang benar, juga ketukan djembe
yang pas. Lumayan bagus juga saya pikir. Vokal dari salah satu mereka lumayan berwarna. Ah, saya suka, sangat suka malah. Untuk ukuran pengamen
jalanan, saya nilai duet mereka bagus. Segera saja saya merekam nyanyian mereka
di handphone yang sedang saya pegang (file attached below --> Pengamen Damri Bandung.wav).
Dan setelah 10 menit bernyanyi, mereka berhenti. Saya ikut berikan sejumlah sejumlah uang
yang sangat pantas mereka terima atas nyanyian dan suasana yang dibentuknya. Menerimanya, terlihat
wajah mereka sangat gembira. Saya yakin wajah itu adalah saya. :)
Selepas mereka turun di
perempatan itu, saya berpikir. Kiranya Bandung menjawab “keinginan lebih untuk
menikmati sore” saya yang tadi. Saya tersenyum sendiri. Saya berpikir saya sedikit
gila untuk bisa berpikir seperti itu. Hahaa. Sebenarnya begini, saya hanya
berpikir bahwa terkadang saya merasakan sesuatu yang susah didefiniskan, atau
bahkan sekedar diklasifikasikan sebagai sebuah kebetulan saja, sesuatu yang
menambah sisi mistis kota ini di hadapan saya. Membuatnya lebih menarik. Saya senang-senang saja.
Salam, Bandung! :)
Bandung, 18 Agustus 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar