![]() |
Warung Nasi Ibu Imas di Jalan Pungkur, Bandung |
2014.
Malam ini saya tiba. Setelah menuruni beberapa anak tangga
bus yang tak banyak, dan sebuah angkutan umum yang penuh sesak menuju terminal angkutan kota Kebon
Kalapa, akhirnya saya ada di sini. Di seberang jalan sebuah rumah makan dengan baligo panjang
berwarna dasar kuning di depannya, bertulis “WARUNG NASI IBU IMAS” yang terpajang panjang sekali.
Normalnya angkutan ini tak seharusnya melewati jalur yang kami lewati tadi. Tapi entah kenapa, malam ini, nyatanya dia membawa saya ke depan sini. Saya benar tak bisa langsung
beranjak dari pinggir jalan ini, pikiran saya melarangnya. Dan seketikanya itu
juga, saya disedot jauh kembali ke beberapa tahun kemarin, malah mungkin persis di beberapa tahun kemarin. Ah, liar
sekali gambar-gambar ingatan itu melintas cepat. Mungkin itu hanya sekitar 1-2 menit saja, untuk
kemudian saya memutuskan sadar kembali ke sini dulu, kembali pada lampu-lampu
mobil dan dengung motor yang terus saja.
Selangkah saya melangkah. Ruangan ini masih sama persis
dengan yang saya ingat dulu.
2010.
Seorang gadis muda dengan matanya yang besar dan terang itu berjalan di
depan, menuntun saya memasuki ruangan ini. Sebuah bangun berbentuk letter-L yang tak
terlalu luas, menuju sebuah bangku kayu panjang dan baris makanannya yang banyak
sekali. Pengunjungnya sedang tak terlalu
ramai, dan gadis itu memilihkan satu tempat untuk kami. Dan di antara penggal obrolan pengunjung yang lain,
kami duduk dalam letih yang susah digambarkan. Saya tahu itu.
Dia berusaha gembira, bercerita sesuatu tentang kebiasaan
neneknya yang tersayang. Saya masih ingat persis ceritanya. Saya perhatikan,
saya dengarkan, tapi saya tak fokus. Pikiran saya sedang terlalu kacau. Saya sedang tak bisa mencerna apapun. Diapun sebenarnya sama. Diapun
sebenarnya sama. Saya tahu.
2014.
Untuk saya, memasuki lagi ruangan ini adalah sebuah
keberanian dan diskusi keras. Saya menyadari bahwa tempat ini hanyalah satu persinggahan
yang menjadi catatan kecil di sebuah alur waktu dan kejadian dulu, kini dan nanti. Dan memandang
lekat pada kursi kayu dan cermin besar di ruangan ini lagi merupakan sebuah
skenario terbatas, dimana kematangan bisa dipaksa untuk melompat di
jarak-jarak yang tak pernah masuk akal dalam pandangan apa-siapapun, dan
nyatanya saya masih di sini. Dan nyatanya saya masih di sini.
Bandung, 7 Maret 2014
*foto diambil dari laman panduanwisata.com, tapi saya belum izin, :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar