Bagi saya, olahraga panjat tebing memiliki daya tarik yang
sangat khas. Meski tak terlalu mahir, tapi saya pikir saya menyukainya. Satu yang
paling menarik adalah seni bergeraknya yang saya pikir memiliki kemiripan
dengan realita hidup dan jalan berpikir yang menurut saya baik. Sebuah ide
kebebasan, daya tahan, kekuatan berpikir, dan kelapangan dalam menerima. Saya
pikir hal-hal itu adalah sebuah realita yang masyhur, meski tak banyak yang
berhasil memaknainya dengan baik. Dan bukan pula berarti saya menyatakan diri
sudah berhasil, tapi saya pikir saya sedang belajar untuk bisa seperti itu. Sama
seperti kita semua.
***
Saya merasa beruntung bisa melihat realita dengan cara yang
saya sukai. Dulu saat masih kanak-kanak di perkampungan bernama Air Putih Baru itu,
dulu saat sekolah di sebuah kota kecil dengan jalanannya yang besar dan sepi, dulu saat
memandang Bandung dari Kampus Para Guru, dulu saat berdialog banyak hal bersama Ganesha, kemarin saat memandang sebuah jalan di kompleks industri yang sibuk
sekali, atau kini saat sejenak terlibat dialog singkat mengenai pekerjaan dengan seorang kawan di ruang
maya. Ah, saya pikir semuanya sama saja. Saya pikir karena saya yang mengemukakan
idenya jadi begitu, maka jadilah kini dia seperti itu.
Saya pikir, pekerjaan itu hanyalah sebuah hal kecil. Sebesar
apapun keterlibatan saya di dalam pekerjaan tersebut, bagi saya itu tetap saja
hal kecil. Sebesar apapun pengaruh pekerjaan yang saya kerjakan saat ini
terhadap kebaikan sesama, bagi saya sama saja. Meski kita juga tahu, bahwa
hal-hal kecil bisa saja berkumpul menjadi hal yang besar. Tapi saya tak akan
membicarakan itu dulu sekarang. Saya akan bercerita lebih banyak tentang sesuatu
yang memang sudah diciptakan menjadi hal besar. Dan hal besar ini, bagaimanapun, tak akan
pernah bisa menjadi kecil. Saya pikir, itulah yang membedakannya dari kumpulan
hal-hal kecil.
Menurut saya, “suatu yang memang sudah diciptakan menjadi
hal besar” adalah merasa senang. Itu adalah sebuah kata yang mewakili sebuah
ide yang bersifat pribadi. Bisa saja itu adalah merasa senang untuk orang lain,
bisa saja merasa senang untuk sendiri, atau apa saja terserah, ah namanya juga
pribadi, terserah saja tentukan sendiri. Tapi yang menjadi pointnya adalah keinginan dalam memutuskan untuk tetap merasa
senang. Dan saat siapapun kehilangan hal ini, maka, normalnya, seseorang akan
merasa tak betah, merasa ada yang salah, merasa tertekan secara mental, atau
hal yang lain. Lama-kelamaan itu membuatnya menjadi lebih parah. Bila
seperti itu, maka saya pikir akan ada bagian dari dalam dirinya yang menolak.
Orang tersebut tak akan pernah bisa memaksakan untuk terus menjalani situasi
tersebut karena dia mencoba memecah sesuatu yang besar dan memang tak bisa dipecahkan.
Bila terus-menerus seperti itu, di sebuah contoh yang lebih ekstrim, maka
sebenarnya saya pikir orang tersebut sedang membahayakan dirinya sendiri.
Pidi Baiq pernah bicara kira-kira seperti ini: “rasa senang
itu diciptakan, bukan ditemukan”. Tapi dengan penuh rasa hormat kepada beliau,
sepertinya saya tak terlalu sepakat dengan ungkapan itu. Saya pikir rasa senang
tak sesempit itu. Menurut saya, rasa senang adalah sebuah ide. Dia bisa saja
diciptakan, bisa saja ditemukan, bahkan bisa saja hilang tanpa disengaja atau malah
sengaja dihilangkan. Dalam suatu cerita: seorang kawan, yang tengah merasa
tertekan habis-habisan karena masalah pekerjaan, akhirnya memutuskan untuk
istirahat sejenak dan merunut ulang apa yang sebenarnya dia inginkan. Dan
setelah itu, dia memutuskan untuk tetap bertahan tapi dengan cara pandang yang
lebih ternikmati dan bahagia, maka kawan tersebut
sebenarnya tengah mengemukakan sebuah ide -- ini bukan menciptakan.
***
Yah. Mungkin ini sedikit membingungkan. Sebenarnya saat ini
saya tengah mencoba menghibur seorang anak manis yang di awal malam tadi bercerita
tentang tekanan pekerjaan yang saat ini tengah dia hadapi. Tadi saya berjanji akan
menuliskan sesuatu di blog ini untuk menghiburnya. Tapi sepertinya apa yang
saya tuliskan panjang-lebar ini sama sekali tak menghibur ya? Malah mungkin membuatnya menjadi
semakin pusing dan tertekan? Ahahahahaaaa. Ya bagi saya itu bukan masalah. Saya
hanya mencoba kan ya? Tentang berhasil atau tidaknya, saya pikir, saya tak
terlalu tertarik. Dan sebenarnya ini adalah contoh dari sebuah ide
bersenang-senang saja. :D
Ah, sudahlah, Kawan. Jangan terlalu serius, entar gampang cape. :D
Cikarang, 3 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar