![]() |
Revised pamflet Touring DLBS 2014, bagus ya? ;) |
“Sebaiknya kita
perbanyak tampilkan foto-fotonya saja. Tak perlu kata-kata yang panjang. Lagian
ini kan untuk pamflet ya”, begitu
kira-kira kawan tadi berujar. “Ya,
kita perbanyak fotonya aja kalo gitu. Sepakat.”, saya menjawab
senyum-senyum.
Saya benar tak mempermasalahkan percakapan kami tadi. Saya senang-senang saja. Saya sepakat-sepakat saja. Bagi saya idenya bagus dan sangat sesuai. Selain itu, dia merasa senang dengan idenya itu. Maka lakukan saja. Toh ini bukan hal yang salah juga kan ya.
***
Saya jadi teringat beberapa hal yang lain, di konteks yang
lain. Tentang gambar, tulisan dan cerita. Sebelumnya, saya juga
pernah membahas hal yang sedikit mirip seperti ini (di tulisan bulan Agustus
2013 berjudul: Gambar, Tulisan dan Cerita).
Tapi saya pikir bukan masalah, sekarang saya tuliskan lagi saja. Apa salahnya? :D
Saya benar menyukai cerita yang hidup. Suatu cerita yang bisa saya
rasakan lebih dalam dengan sudut pandang yang tajam. Seperti halnya saat saya melihat sebuah gambar. Saya pikir, memang benar bahwa
sebuah gambar bisa bercerita tentang seribu cerita. Tapi saya pikir juga,
seribu cerita itu tak benar-benar terasa hidup. Hilangnya latar sudut pandang emosional
dari si pengambil gambar, membuat gambarnya seolah kehilangan jiwa. Ya,
menurut saya begitu!
Seperti saat seorang kawan mengunggah sebuah foto tentang sembilan orang anak di
salah satu pantai Papua. Bagus sekali fotonya. Hingga akhirnya saya bertanya
pada si pengambil gambarnya: “apa kiranya
yang kamu pikirkan saat mengambil gambar ini? saya senang sekali untuk bisa
mengetahuinya.”. Ya, saya pikir gambar itu seolah seorang gadis cantik melenggak-lenggok,
tapi tatapannya kosong. Jiwanya seperti sedang tak ada di tempat!
Atau seperti foto seorang renta peminta-minta di antara
gedung pencakar langit di Ibukota. Ya, gambar itu bercerita banyak hal. Tapi saya
pikir ceritanya tak benar hidup. Saya sepertinya akan bisa lebih menikmatinya bila
saja, misal, ada latar yang menjelaskan: “saya
tengah menunggu seorang kekasih yang tak kunjung selesai dari rapatnya yang
seharian. Di tengah letih yang semakin menumpuk, saya melihat seorang renta itu
menengadah menuju langit. Sepertinya dia sedang lapar. Mungkin begitu. Tapi mungkin
juga kalian tak tahu, bahwa kekasihku masih belum memberi kabar.”
Atau seperti foto villa
berikut kolam renang dan lapangan hijaunya di pamflet ini. Sekali lagi, memang
foto-foto ini bisa bercerita sendiri tentang apa saja yang bisa kami lakukan
selama di sana nanti. Tapi sepertinya gambar ini akan benar hidup bila kami menambahkan latar: “marihhh, kita menghirup
udara pegunungan sambil bermain air dan berkejar-kejaran”. Ah, saya pikir
foto itu bisa jadi hidup sekali.
Ah, sebenarnya sekarang saya sedang berdialog sendiri saja. Dan
mungkin saja ini hanya sebuah ego yang saya samarkan. Siapa yang tahu? Bahkan, kadang,
saya sendiri juga tak terlalu yakin sendiri. :D
Cikarang, 24 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar