Senin, 24 Maret 2014

Gambar, Tulisan dan Cerita (2)

Revised pamflet Touring DLBS 2014, bagus ya? ;)
Sore dan malam ini kami berdiskusi. Kali ini menyusun sebuah pamflet sederhana untuk rencana touring bersama kawan-kawan kantor ke salah satu villa wisata di daerah Puncak, Bogor. Kami juga sudah punya banyak foto dari villa yang akan kami kunjungi itu. Dan kini salah satu kawan tersebut menyusun, saya memperhatikan. Saya persilahkan dia menyusun semaunya saja, apa yang dia mau, saya akan setuju.

Sebaiknya kita perbanyak tampilkan foto-fotonya saja. Tak perlu kata-kata yang panjang. Lagian ini kan untuk pamflet ya”, begitu kira-kira kawan tadi berujar. “Ya, kita perbanyak fotonya aja kalo gitu. Sepakat.”, saya menjawab senyum-senyum.

Saya benar tak mempermasalahkan percakapan kami tadi. Saya senang-senang saja. Saya sepakat-sepakat saja. Bagi saya idenya bagus dan sangat sesuai. Selain itu, dia merasa senang dengan idenya itu. Maka lakukan saja. Toh ini bukan hal yang salah juga kan ya.

***
Saya jadi teringat beberapa hal yang lain, di konteks yang lain. Tentang gambar, tulisan dan cerita. Sebelumnya, saya juga pernah membahas hal yang sedikit mirip seperti ini (di tulisan bulan Agustus 2013 berjudul: Gambar, Tulisan dan Cerita). Tapi saya pikir bukan masalah, sekarang saya tuliskan lagi saja. Apa salahnya? :D

Saya benar menyukai cerita yang hidup. Suatu cerita yang bisa saya rasakan lebih dalam dengan sudut pandang yang tajam. Seperti halnya saat saya melihat sebuah gambar. Saya pikir, memang benar bahwa sebuah gambar bisa bercerita tentang seribu cerita. Tapi saya pikir juga, seribu cerita itu tak benar-benar terasa hidup. Hilangnya latar sudut pandang emosional dari si pengambil gambar, membuat gambarnya seolah kehilangan jiwa. Ya, menurut saya begitu!

Seperti saat seorang kawan mengunggah sebuah foto tentang sembilan orang anak di salah satu pantai Papua. Bagus sekali fotonya. Hingga akhirnya saya bertanya pada si pengambil gambarnya: “apa kiranya yang kamu pikirkan saat mengambil gambar ini? saya senang sekali untuk bisa mengetahuinya.”. Ya, saya pikir gambar itu seolah seorang gadis cantik melenggak-lenggok, tapi tatapannya kosong. Jiwanya seperti sedang tak ada di tempat!

Atau seperti foto seorang renta peminta-minta di antara gedung pencakar langit di Ibukota. Ya, gambar itu bercerita banyak hal. Tapi saya pikir ceritanya tak benar hidup. Saya sepertinya akan bisa lebih menikmatinya bila saja, misal, ada latar yang menjelaskan: “saya tengah menunggu seorang kekasih yang tak kunjung selesai dari rapatnya yang seharian. Di tengah letih yang semakin menumpuk, saya melihat seorang renta itu menengadah menuju langit. Sepertinya dia sedang lapar. Mungkin begitu. Tapi mungkin juga kalian tak tahu, bahwa kekasihku masih belum memberi kabar.

Atau seperti foto villa berikut kolam renang dan lapangan hijaunya di pamflet ini. Sekali lagi, memang foto-foto ini bisa bercerita sendiri tentang apa saja yang bisa kami lakukan selama di sana nanti. Tapi sepertinya gambar ini akan benar hidup bila kami menambahkan latar: “marihhh, kita menghirup udara pegunungan sambil bermain air dan berkejar-kejaran”. Ah, saya pikir foto itu bisa jadi hidup sekali.

Ah, sebenarnya sekarang saya sedang berdialog sendiri saja. Dan mungkin saja ini hanya sebuah ego yang saya samarkan. Siapa yang tahu? Bahkan, kadang, saya sendiri juga tak terlalu yakin sendiri. :D

Cikarang, 24 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar