![]() |
Salah satu sudut jalan di cluster Cempaka, tepatnya di depan rumah Y19/129, Citra Indah, Jonggol, Bogor. |
Saya bangun dari tidur siang yang lumayan. Untuk kemudian
membuka sebuah notifikasi di laman media sosial dengan lampunya yang
berkedap-kedip memanggil. Ternyata seorang kawan bertanya sesuatu tentang posting gambar yang saya unggah tepat sebelum lepas tertidur tadi. Hanya
sebuah pertanyaan sederhana sebenarnya, tapi saya tak bisa menjawab dengan
jelas karena gambar tersebut bukan saya yang mengambilnya langsung. Beberapa menit
berselang, dan pikiran saya masih saja tertuju pada pertanyaan sederhana tadi dan sebuah
rumah mungil di gambar itu. Menyadari langit di luar sana sedang cerah, saya
mendapat sebuah ide yang saya pikir bagus: "saya pergi ke rumah itu saja
sekarang!". Untuk kemudian meminjam sebuah helm basah milik
seorang tetangga kosan yang sepertinya tengah ditelpon oleh orang tuanya, saya
panaskan sebentar motor pinjaman dari kawan yang lain, saya bersiap. Ah, selamat sore.
***
17.10. Saya tiba di hadapan sebuah patung megah dengan gambaran 4
manusia di dalamnya, juga seekor anjing yang tengah menyalak antusias dan
anaknya. Jadi mereka berenam. Ah, lama saya pandangi patung itu, saya coba
menembus apa yang pernah dipikirkan oleh para pembuatnya. Entah berhasil entah
tidak, hingga saya merasa cukup dulu. Pergi menyalakan kembali motor yang tadi diparkirkan
di sudut itu, saya berjalan lagi menuju selatan, menuju sebuah cluster yang konon merupakan cluster tertua dari perumahan besar ini.
Namanya cluster Cempaka, dan di situlah
letak rumah mungil di gambar tadi. Sebuah rumah dengan tipe 21, dan baru
setengah jadi. Sebuah rumah yang mungkin menurut orang lain kecil sekali, tapi kalau
menurut saya, rumah ini keren sekali! :D
Setibanya di sana, memarkirkan motor di pinggir jalannya,
saya mulailah mengambil beberapa gambar dari beberapa sudut rumah itu. Setelah terpikir
cukup, saya berpindah. Kini duduk bersila di atas motor itu yang diam dan tenang,
menghadap sisi diagonal dari rumah yang sekitarnya masih dipenuhi rumput liar
dan belum dibersihkan. Sambil meminum jus jeruk kemasan dan kacamata hitam
yang tak lepas, saya berkontemplasi menembus formasi rangka-rangka baja ringan yang terpasang
di atas atap rumahnya yang terbuka. Pikiran saya melesat melewati kecepatan
cahaya!!
***
Jarum pendek di jam tangan ini hampir tepat menunjuk ke
angka 7, saat saya tiba di depan sebuah rumah lain yang terlihat masih sedikit berantakan.
Saat ini saya tengah mengunjungi seorang kawan yang lain. Letak rumahnya tak begitu jauh dengan rumah mungil di gambar itu, atau setidaknya keduanya masih berada di
satu cluster yang sama. Dan setelah setengah
jam habiskan waktu melihat-lihat rumahnya yang masih dalam tahap pembenahan itu
–dia sedang menambah ruangan di tanah sebelah miliknya yang masih lowong, juga sambil
menghabiskan 2 butir jeruk suguhan yang besar-besar, dia bersiap mengajak
saya pergi. Sedari tadi di awal-awal, dia antusias sekali menceritakan sebuah
tempat penjual makanan baru di perumahan ini yang sekarang sudah dilokalisir
dan jadi rapi sekali. “Pilihannya banyak sekali, Mas”, kira-kira begitulah dia
meyakinkan saya untuk ikut. Dengan purnama 15 yang bersinar kuning, saya tertawa
dalam hati. Karena sebenarnya saya akan ikut-ikut saja, terserah apa saja,
kalau dia suka, saya akan ikut saja. Benar begitu. Saya tamu. Dia kawan yang baik. :)
Jonggol, 16 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar