Minggu, 16 Maret 2014

Mimpi di Citra Indah (3)

Salah satu sudut jalan di cluster Cempaka, tepatnya di depan rumah Y19/129, Citra Indah, Jonggol, Bogor.
Saya bangun dari tidur siang yang lumayan. Untuk kemudian membuka sebuah notifikasi di laman media sosial dengan lampunya yang berkedap-kedip memanggil. Ternyata seorang kawan bertanya sesuatu tentang posting gambar yang saya unggah tepat sebelum lepas tertidur tadi. Hanya sebuah pertanyaan sederhana sebenarnya, tapi saya tak bisa menjawab dengan jelas karena gambar tersebut bukan saya yang mengambilnya langsung. Beberapa menit berselang, dan pikiran saya masih saja tertuju pada pertanyaan sederhana tadi dan sebuah rumah mungil di gambar itu. Menyadari langit di luar sana sedang cerah, saya mendapat sebuah ide yang saya pikir bagus: "saya pergi ke rumah itu saja sekarang!". Untuk kemudian meminjam sebuah helm basah milik seorang tetangga kosan yang sepertinya tengah ditelpon oleh orang tuanya, saya panaskan sebentar motor pinjaman dari kawan yang lain, saya bersiap. Ah, selamat sore.

***
17.10. Saya tiba di hadapan sebuah patung megah dengan gambaran 4 manusia di dalamnya, juga seekor anjing yang tengah menyalak antusias dan anaknya. Jadi mereka berenam. Ah, lama saya pandangi patung itu, saya coba menembus apa yang pernah dipikirkan oleh para pembuatnya. Entah berhasil entah tidak, hingga saya merasa cukup dulu. Pergi menyalakan kembali motor yang tadi diparkirkan di sudut itu, saya berjalan lagi menuju selatan, menuju sebuah cluster yang konon merupakan cluster tertua dari perumahan besar ini. Namanya cluster Cempaka, dan di situlah letak rumah mungil di gambar tadi. Sebuah rumah dengan tipe 21, dan baru setengah jadi. Sebuah rumah yang mungkin menurut orang lain kecil sekali, tapi kalau menurut saya, rumah ini keren sekali! :D

Setibanya di sana, memarkirkan motor di pinggir jalannya, saya mulailah mengambil beberapa gambar dari beberapa sudut rumah itu. Setelah terpikir cukup, saya berpindah. Kini duduk bersila di atas motor itu yang diam dan tenang, menghadap sisi diagonal dari rumah yang sekitarnya masih dipenuhi rumput liar dan belum dibersihkan. Sambil meminum jus jeruk kemasan dan kacamata hitam yang tak lepas, saya berkontemplasi menembus formasi rangka-rangka baja ringan yang terpasang di atas atap rumahnya yang terbuka. Pikiran saya melesat melewati kecepatan cahaya!!

***
Jarum pendek di jam tangan ini hampir tepat menunjuk ke angka 7, saat saya tiba di depan sebuah rumah lain yang terlihat masih sedikit berantakan. Saat ini saya tengah mengunjungi seorang kawan yang lain. Letak rumahnya tak begitu jauh dengan rumah mungil di gambar itu, atau setidaknya keduanya masih berada di satu cluster yang sama. Dan setelah setengah jam habiskan waktu melihat-lihat rumahnya yang masih dalam tahap pembenahan itu –dia sedang menambah ruangan di tanah sebelah miliknya yang masih lowong, juga sambil menghabiskan 2 butir jeruk suguhan yang besar-besar, dia bersiap mengajak saya pergi. Sedari tadi di awal-awal, dia antusias sekali menceritakan sebuah tempat penjual makanan baru di perumahan ini yang sekarang sudah dilokalisir dan jadi rapi sekali. “Pilihannya banyak sekali, Mas”, kira-kira begitulah dia meyakinkan saya untuk ikut. Dengan purnama 15 yang bersinar kuning, saya tertawa dalam hati. Karena sebenarnya saya akan ikut-ikut saja, terserah apa saja, kalau dia suka, saya akan ikut saja. Benar begitu. Saya tamu. Dia kawan yang baik. :)

Jonggol, 16 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar