Kamis, 20 Maret 2014

Hujan Petir-Petir

Langit sore memang sudah terlalu gelap tadi. Dan kumpulan mendung di atas sepertinya memang tengah janjian di situ tepat pukul itu. Tapi kami di sini tetap saja. Berkumpul di sebuah warung bergerak milik seorang kawan yang hobi sekali memakai topi. Pesankan beberapa gelas kopi, kami mulai bercerita tentang tema yang tak spesifik. Juga santapan bumbu kacang yang tengah dinikmati oleh salah satu dari kami, jarum jam terus berputar hingga sekarang waktu sudah di 17.25. Kami sambunglah lagi bicara. Dalam regukan yang satu-satu, kami tahu, sebentar lagi hujan turun. Mungkin turunnya akan lebat sekali. Ah, mungkin begitu.

Tak kuranglah dalam lima menit waktu berselang, hujan sebesar-besarpun langsung datang hampiri dedahanan tempat dimana kami kini berteduh. Lanjut melihat deraiannya yang semakin saja, akhirnya kami memilih pergi, berlari satu-persatu. Menuju sebuah pos keamanan utama dari kantor kami ini, juga beberapa kawan-kawan sekuriti yang sedang memantau sambil berjaga dengan sigapnya. Dan dalam hujan-hujan yang semakin ramai, juga kilatan petir yang banyak sekali, satu persatu kawanpun memilih pulang. Alasannya bermacam-macam, tak perlulah saya sebutkan. Tapi sepertinya saya tak ikut dulu. Saya lebih memilih di sini dulu.

Berdiri di depan sebuah pintu pos keamanan yang memang selalu terbuka, adalah sesuatu yang religius. Saya benar tidak membual. Bagaimana bisa begitu bila rangkai kontemplasinya menembus kilatan petir beraneka bentuk dan dimana-mana. Ini seolah opera paling memukau, basahnya seperti digulung ombak genit yang membawa. Saya berpikir sendiri, bahwa mungkin inilah salah satu pertunjukan paling prestise yang bisa dilihat. Sebelum beberapa detik kemudian, akhirnya operanya mencapai klimaks cerita. Pojok bangunan kokoh itu gompal sebesaran paha dipegang kilas sinar yang menghentak. Saya melihat malaikat!!! Saya melihat malaikat!!!

Beberapa detik menikmati pukau yang tak kalang sekali habis, sesegeranya kini memilih dengan beberapa barang dagangan yang dijajakan kawan di depan. Dan beberapa reguk kopi sisa yang tadi, saya duduk menghadap lagi. Mengamati dari sini sisa ceritanya dengan senyum yang mesem-mesem tanda gembira.

Selamat hujan raya, Jababeka. Selamat datang juga, Petir-petir. Selamat! Selamat!
Cikarang, 20 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar