Langit sore memang sudah terlalu gelap tadi. Dan kumpulan mendung
di atas sepertinya memang tengah janjian di situ tepat pukul itu. Tapi kami di sini tetap
saja. Berkumpul di sebuah warung bergerak milik seorang kawan yang hobi sekali memakai
topi. Pesankan beberapa gelas kopi, kami mulai bercerita tentang tema yang
tak spesifik. Juga santapan bumbu kacang yang tengah dinikmati oleh salah satu
dari kami, jarum jam terus berputar hingga sekarang waktu sudah di 17.25. Kami
sambunglah lagi bicara. Dalam regukan yang satu-satu, kami tahu, sebentar
lagi hujan turun. Mungkin turunnya akan lebat sekali. Ah, mungkin begitu.
Tak kuranglah dalam lima menit waktu berselang, hujan
sebesar-besarpun langsung datang hampiri dedahanan tempat dimana kami kini
berteduh. Lanjut melihat deraiannya yang semakin saja, akhirnya kami memilih
pergi, berlari satu-persatu. Menuju sebuah pos keamanan utama dari kantor kami ini,
juga beberapa kawan-kawan sekuriti yang sedang memantau sambil berjaga dengan
sigapnya. Dan dalam hujan-hujan yang semakin ramai, juga kilatan petir yang
banyak sekali, satu persatu kawanpun memilih pulang. Alasannya bermacam-macam,
tak perlulah saya sebutkan. Tapi sepertinya saya tak ikut dulu. Saya lebih memilih
di sini dulu.
Berdiri di depan sebuah pintu pos keamanan yang memang
selalu terbuka, adalah sesuatu yang religius. Saya benar tidak membual. Bagaimana
bisa begitu bila rangkai kontemplasinya menembus kilatan petir beraneka bentuk dan dimana-mana. Ini seolah opera paling memukau, basahnya seperti digulung ombak genit yang membawa. Saya
berpikir sendiri, bahwa mungkin inilah salah satu pertunjukan paling prestise yang bisa dilihat. Sebelum beberapa
detik kemudian, akhirnya operanya mencapai klimaks
cerita. Pojok bangunan kokoh itu gompal sebesaran paha dipegang kilas sinar
yang menghentak. Saya melihat malaikat!!! Saya melihat malaikat!!!
Beberapa detik menikmati pukau yang tak kalang sekali habis,
sesegeranya kini memilih dengan beberapa barang dagangan yang dijajakan kawan
di depan. Dan beberapa reguk kopi sisa yang tadi, saya duduk menghadap lagi. Mengamati
dari sini sisa ceritanya dengan senyum yang mesem-mesem
tanda gembira.
Selamat hujan raya, Jababeka. Selamat datang juga, Petir-petir. Selamat! Selamat!
Cikarang, 20 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar