Rabu, 12 Maret 2014

Di Pojok Sore (8)

Cikarang sedang tak seberapa cerah sore ini. Saat berdua dengan seorang kawan dan dua gelas kopi yang masing-masing, kami bicara seperti biasa di depan baris pagar hitam-legam yang meruncing. Dan tema kami hari ini sedikit lebih tak berarah dibanding kemarin-kemarin. Bahkan rasanya saya tak bisa menjawab bila ada yang bertanya apa yang sebenarnya kami bicarakan. Karena kami tengah bicara lepas saja. Bicara apa saja yang kami inginkan, lalu menertawakannya.

Dan seorang penjual sepatu keliling hampiri kami. Menawarkan berbagai model sepatu dan sendal kulit yang dibawanya dalam sebuah kantong plastik hitam berukuran besar. Bertiga kami tukar bicara. Temanya kini adalah sepatu kulit yang lentur, tahan api, anti gores dan menawan. Itulah kira-kira yang dia ceritakan pada kami. Kami dengarkan baik-baik. Katanya sepatu dan sendal ini dibuat jauh di Tasikmalaya. Hah, saya suka sekali dengan obrolan ini. Benar-benar suka. Dan kami berdua benar-benar berbagi tugas. Kawan yang tadi lebih giat bertanya tentang informasi seputar sepatu, sedang saya sepertinya lebih senang menyelipkan beberapa pertanyaan yang menurut saya lebih menarik, dia tangkas menjawab. Saya tanyakan namanya, dari mana dia berasal, dimana dia tinggal, kemana saja dia berjualan hari ini, dan yang lain. Juga tak lupa kami goda dia dengan pertanyaan apakah pembayaran sepatu ini bisa diangsur 3 kali? Ah, saya suka sekali melihatnya tertawa sambil menjawab.

15 menit waktu berjalan, dan dia sudah pergi membawa bungkusan besar itu. Saya perhatikan sampai dia menghilang di ujung jalan itu. Dan kami sudah tak bicarakan sepatu lagi. Berganti kini dengan obrolan ibu-ibu di Bandung yang melihat UFO karena sedang pusing, juga baris tawa-tawa terpanjang.

***
Ah, mungkin kamu mengira ini adalah waktu yang terbuang. Tapi sepertinya saya yakin bahwa kamu salah. Karena saya pikir di obrolan serupa inilah rasa sedih dan gembira menunjukkan batasnya. Bila kamu tak sepakat, sepertinya kamu hanya tengah berjalan terlalu serius. Dan terlalu serius selalu membuat sedihmu seperti bukan milikmu, membuat tawamu jadi rancu. Saya pikir begitu. Dan, ah, kiranya apa yang lebih menyedihkan dari tak pernah tahu saat ini kamu tengah berduka atau gembira? Saya pikir tak ada! Tak ada hal yang lebih buruk dari pikiran dan hatimu tak saling mengenal satu sama lain. Tubuhmu hanya jadi penjara bagi keduanya.
Ah, mungkin saja saya salah sebenarnya. :D
Cikarang, 12 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar