Cikarang sedang tak seberapa cerah sore ini. Saat berdua
dengan seorang kawan dan dua gelas kopi yang masing-masing, kami bicara seperti
biasa di depan baris pagar hitam-legam yang meruncing. Dan tema kami hari ini sedikit
lebih tak berarah dibanding kemarin-kemarin. Bahkan rasanya saya tak bisa
menjawab bila ada yang bertanya apa yang sebenarnya kami bicarakan. Karena kami
tengah bicara lepas saja. Bicara apa saja yang kami inginkan, lalu menertawakannya.
Dan seorang penjual sepatu keliling hampiri kami. Menawarkan
berbagai model sepatu dan sendal kulit yang dibawanya dalam sebuah kantong
plastik hitam berukuran besar. Bertiga kami tukar bicara. Temanya kini adalah
sepatu kulit yang lentur, tahan api, anti gores dan menawan. Itulah kira-kira
yang dia ceritakan pada kami. Kami dengarkan baik-baik. Katanya sepatu dan
sendal ini dibuat jauh di Tasikmalaya. Hah, saya suka sekali dengan obrolan ini. Benar-benar suka. Dan kami berdua benar-benar berbagi tugas. Kawan yang
tadi lebih giat bertanya tentang informasi seputar sepatu, sedang saya sepertinya
lebih senang menyelipkan beberapa pertanyaan yang menurut saya lebih menarik, dia tangkas
menjawab. Saya tanyakan namanya, dari mana dia berasal, dimana dia tinggal, kemana
saja dia berjualan hari ini, dan yang lain. Juga tak lupa kami goda dia dengan
pertanyaan apakah pembayaran sepatu ini bisa diangsur 3 kali? Ah, saya suka
sekali melihatnya tertawa sambil menjawab.
15 menit waktu berjalan, dan dia sudah pergi membawa bungkusan
besar itu. Saya perhatikan sampai dia menghilang di ujung jalan itu. Dan kami
sudah tak bicarakan sepatu lagi. Berganti kini dengan obrolan ibu-ibu di
Bandung yang melihat UFO karena sedang pusing, juga baris tawa-tawa terpanjang.
***
Ah, mungkin kamu mengira ini adalah waktu yang terbuang. Tapi
sepertinya saya yakin bahwa kamu salah. Karena saya pikir di obrolan serupa
inilah rasa sedih dan gembira menunjukkan batasnya. Bila kamu tak sepakat,
sepertinya kamu hanya tengah berjalan terlalu serius. Dan terlalu serius selalu
membuat sedihmu seperti bukan milikmu, membuat tawamu jadi rancu. Saya pikir begitu. Dan, ah,
kiranya apa yang lebih menyedihkan dari tak pernah tahu saat ini kamu
tengah berduka atau gembira? Saya pikir tak ada! Tak ada hal yang lebih buruk
dari pikiran dan hatimu tak saling mengenal satu sama lain. Tubuhmu hanya jadi penjara
bagi keduanya.
Ah, mungkin saja saya salah sebenarnya. :D
Cikarang, 12 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar