![]() |
Kawan saya dan block-smash di turnamen Proliga |
Menarik sekali. Kemarin malam seorang kawan mengirimkan foto
saat dia sedang bertugas menjadi salah satu tim pengadil di turnamen bola voli paling
masyhur di negeri ini, Proliga. Turnamen ini mempertemukan semua tim bola voli
terbaik di seluruh Indonesia, dan bertanding dengan gengsi yang sangat tinggi pula.
Singkat kata, saya hanya ingin menggambarkan betapa hebatnya turnamen berskala
nasional tersebut, berikut semua elemen yang terlibat di dalamnya. Dengan
sedikit berkomentar sendiri, kawan tersebut berkata sambil tertawa: “bagus A ya? sayang saya cuma keliatan dikit
di gambarnya. Tapi ya lumayan lah, bagus, heheu.”. Saya tertawa membacanya,
dan memberikan komentar: “wah, bagus pisan ini
mah, kamu keliatan ganteng sekali di sini. Coba di upload ke fb, nanti A kasih
like. :p”. Dan ternyata dia membalas lagi: “ah, jangan A, malu. Orang lain yang jadi wasit utamanya aja mungkin ga
nge-upload fotonya, ini malah saya yang cuma jadi hakim garis doank sok-sokan nge-upload
foto lagi tugas. Takut ntar dibilang norak sama orang lain, A. Jadi mending ga
usah aja.”. Saya tertawa lepas mendengar jawabannya.
Setelah beberapa saat berdiam sejenak, saya memilih berkomentar lagi. Berkomentar dengan
bahasa yang saya usahakan selugas mungkin, saya mulai menulis. “Ya jangan di-upload aja kalo gitu mah. Kamu upload
fotonya kalo kamu suka dan mau aja. Kalo kamu ga mau, ya jangan berarti. Tapi kalo
alasannya kamu takut dinilai norak sama orang lain, terus kamu ga jadi nge-upload
padahal kamu suka, kayanya A pikir kamu salah. :)”. Dia lantas jadi
cepat bertanya lagi, kenapa kiranya saya menganggap itu salah?
Kawan yang ini adalah salah satu kawan terbaik saya dalam belajar dan berdiskusi tentang apapun. Kami belajar banyak hal bersama-sama, termasuk juga tentang yang ini. Meski berbeda umur hampir 5
tahunan, tapi hal itu tak lantas membuat saya menganggap dia lebih sedikit tahu dari
saya sendiri. Banyak hal darinya yang saya pikir dia jauh lebih paham dari
saya. Tapi untuk yang ini, sepertinya saya yakin, bahwa dia sedang tak tepat. Itu saja.
:) Lalu saya sampaikan apa yang ada di pikiran saya, dan terserah
menurutnya bagaimana, mau sepakat atau tidak, bagi saya bukan masalah, terserah saja. Heheu.
Saya ceritakan padanya bahwa seharian kemarin saya beberapa kali mengunggah foto rumah mungil bertipe 21 yang saat ini tengah saya cicil hingga 8
tahun ke depan. Saya ceritakan pula padanya bahwa saya mengunggah foto-foto itu dengan
penuh kebanggaan dan rasa bahagia. Bahkan di salah satu kalimat di blog yang saya tulis
tentangnya, saya biarkan saya bicara dengan sangat terbuka, kira-kira begini: “Sebuah
rumah dengan tipe 21, dan baru setengah jadi. Sebuah rumah yang mungkin menurut
orang lain kecil sekali, tapi kalau menurut saya: rumah ini keren sekali!”.
Dan mungkin ada jutaan orang lain di laman fb yang memiliki rumah jauh lebih
besar, mewah dan tidak kredit, :D. Tapi saya pikir itu bukan milik saya, saya
benar-benar tak mau berkonsentrasi pada milik orang lain. Dan hal itu tak membuat saya berkecil
hati juga untuk menceritakan bahwa rumah yang saya miliki adalah “hanya” tipe
21 –sebuah tipe terkecil untuk bisa disebut sebagai rumah secara umum. Saya benar
tak hawatir siapapun akan berkomentar bahwa yang saya lakukan adalah sesuatu
yang norak. Sama sekali tidak. Saya
tak hawatir sama sekali! Benar! Dan satu hal yang jauh lebih penting dari itu semua adalah:
karena saya pikir saya suka untuk mengunggahnya, dan saya nilai hal itu juga bukanlah suatu yang
buruk.
***
Nyatanya kawan tersebut akhirnya memilih untuk mengunggah
foto tersebut. Tak lupa, dia tag-kan juga
saya di dalamnya. Dan sesuai janji saya sebelumnya, saya beri like pada fotonya. Dan saya yakin, dia pasti tengah senyum-senyum
sendiri saat ini. :)
Ah, selamat kawan, saya ikut senang ngeliet fotonya. ;)
Cikarang, 17 Maret 2014
*foto dari Debi Krisna. Saya kurang tahu foto ini didapatnya dari mana. :p
ahahahaha.. aduh ini a guntur meuni ditulis di blog segala,, jd malu kan djennya.. :D
BalasHapusmakasih banyak a ya.. :)
Wkwkwkkw. Santai aja kita mah, sambil minum kopi. :D
Hapus