Sabtu, 22 Maret 2014

Di Pojok Sore (9)


Kedasih cerah dan formasi awannya yang seperti sanggul ibu pejabat :D
Sore cerah. Matahari Kedasih tak tampak malu-malu. Dan kabar gembira itu akhirnya datang lewat sebuah pesan singkat dari seorang kawan baik di ujung sana. Berikut ucapan syukurnya yang panjang, sepertinya kami tadi sama tertawa. Seperti beberapa kejadian dan cerita kami di awal pagi tadi, juga di beberapa pagi, siang dan sore kami di satu bulan ke belakang ini. Tentang kehawatirannya pada sejumlah uang yang sudah disetorkan ke orang yang lain kemarin-kemarin. “Ah, saya hawatir uang itu akan hilang”, begitu ucapnya yang beberapa kali, berikut tatapan mata yang tak terlalu bersemangat. Saya senyum-senyum saja. Dan dia mungkin kadang jadi sedikit kesal juga saat saya sering merespon gumamannya dengan lelucon yang tak menghibur, berikut ucapan yang sering kali saya ulangkan: “jangan hawatir, tenang saja, jangan hawatir”.

Ah, saya pikir uang bukanlah hal yang serius. Itu juga rumah, tanah, liburan, bisnis, minum kopi, sama saja. Saya pikir itu semua menarik, tapi tetap saja saya pikir itu tak serius. Keberhasilan pada hal-hal serupa itu selalu saja menyenangkan, tapi saya pikir itu akan menjadi salah saat terlalu berlebihan memikirkannya. Ah, saya pikir gagal tak juga berarti sebegitu buruk ya. Biar saja. Seperti sebuah kalimat yang sering sekali saya ucapkan sambil mesem-mesem ke beberapa kawan yang lain: “tenang, kamu sudah dan selalu berusaha, kamu akan berhasil pada akhirnya. Dan kalaupun tidak, ya jangan biarkan kamu bersedih karenanya. Hmmm, baiklah, saya akan ceritakan sebuah rahasia: sebenarnya merasa bahagia itu lebih menyenangkan dari pada bersedih!”. Kadang beberapa kawan menganggap apa yang saya sampaikan itu adalah hal yang konyol, dan sambil tertawa kadang mereka berkomentar: “itu mah bukan rahasia, semua orang juga tahu”. Biasanya saya akan mendekatkan diri ke telinganya sambil setengah berbisik ucapkan: “Ah, kamu salah, cuma sedikit orang yang tahu rahasia ini”. Dan saya akan lebih bahagia bila kawan tersebut akhirnya manggut-manggut dengan ekspresi seolah paham, seperti seorang detektif swasta yang menemukan key clue di sebuah film pembunuhan. Yeah, how cool I am!!

Sebenarnya di sini saya cuma bicara saja. Bukan pula itu berarti saya sangat paham dengan konsep yang saya ceritakan tadi. Sama seperti yang lain, kadang saya juga hilang senang, bingung sendiri. Tapi saya pikir merasa bingung dan bersedih adalah sebuah barometer positif yang menyatakan bahwa saya baik-baik saja. Ah, syukurlah, ternyata saya baik-baik saja. :D

Cikarang, 22 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar