Siang ini mendengarkan lagi sebuah lagu berjudul “Kontroversi
Hati” yang dinyanyikan oleh Junayla, saya baru tahu. Saya dengarkan lagunya pelan-pelan, dan sepertinya saya menyukai komposisi nada dan liriknya yang saya pikir lucu dan somehow membuat saya merasa senang. Mendengarnya
saya jadi mengingat lagi sekitar setengah tahun yang lewat, saat semua
infotainment di media massa sedang hangat-hangatnya membahas phrases super yang diciptakan oleh Vicky Prasetyo. Sebenarnya saya sudah pernah membahas
tentang Vicky Prasetyo sebelumnya, kalau tak salah di tulisan bulan September 2013 lalu. Saya
juga teringat bagaimana berbagai komentar menyusul pemberitaan itu. Beberapa berkomentar
pedas sekali, ucapkan betapa bodohnya Zaskia, seorang artis
pendatang baru yang baru datang dari kampung dan hanya lulusan SD di salah satu
desa di Karawang, ditipu oleh Vicky yang mengaku lulusan S3 dari Amerika. Saya masih ingat benar betapa stigma negatif
juga melekat erat di sosok Zaskia sebagai seorang lulusan SD yang bodoh. Terus terang,
saya tak terlalu suka dengan hal itu. Saya pikir itu bukan hal yang baik.
Bagi saya pendidikan adalah hal yang sangat baik. Sebuah hal
yang patut untuk dikejar dengan kesungguhan dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Tapi saya pikir, pendidikan tidak seharusnya digunakan untuk merendahkan
siapapun. Saya pikir ini adalah sebuah penyelewangan besar terhadap hakikat pendidikan!
Saya benar-benar tak pernah sepakat untuk melihat seseorang dari tingkat
pendidikannya. Saya menemukan banyak orang dengan pendidikan (sebutlah) rendah
dengan kepribadian yang sangat baik, dan tak sedikit pula menemukan hal sebaliknya.
“Lalu untuk apa?”, seringkali saya
bertanya sendiri seperti itu.
Adalah beberapa hal yang mungkin sudah beberapa kali saya utarakan
pada beberapa kawan dekat dan pada seorang gadis yang sangat menarik itu. Bahwa nanti
bila saya memiliki keturunan, seseorang yang menjadi salah satu tanggung jawab terbesar dalam hidup saya, maka saya memiliki sedikit cita-cita untuknya. Sebuah tujuan hidup dan cita-cita
sederhana yang saya harap bisa dia tepati nanti dengan jalan pikirannya
sendiri. Semoganya benar bisa begitu. Dan mungkin isinya sedikit-banyak adalah
begini:
“Hai kawan, mungkin aku
adalah salah satu orang yang paling bertanggung jawab tentangmu. Bila kamu
ingin tahu, sebenarnya aku punya sebuah kalimat sederhana untukmu: bila
kamu tumbuh besar nanti, sepertinya aku tak akan pernah mendoakanmu untuk
menjadi seorang yang pintar, kaya, masyhur, rupawan. Satu hal yang akan selalu
kudoakan adalah agar kamu menjadi seorang yang baik. Agar kamu menjadi seorang yang
baik. Hanya itu saja. Dan bila nyatanya nanti kamu tumbuh sebagai seorang yang pintar,
kaya dan rupawan, sebenarnya bagiku itu hanya sebuah bonus-bonus kecil yang
menyenangkan. Dan semoga kamu bisa menikmatinya.”
Hah, mungkin ini adalah sesuatu yang terlalu jauh. Dan mungkin
saja saya salah untuk berbicara seperti ini. Tapi saya pikir ini adalah hal
yang baik. Bila nanti nyatanya saya lupa menyampaikannya, mungkin tulisan ini
adalah suatu hal yang bisa menggantikannya. Ah, sebenarnya ini hanyalah sesuatu
yang sederhana. Sebuah keinginan sekaligus doa yang sederhana, yang mungkin belum
bisa saya jalankan seorang diri.
Cikarang, 5 Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar