Selasa, 04 Maret 2014

Pendidikan dan Doa-doa Yang (seperti) Terlalu Jauh

Siang ini mendengarkan lagi sebuah lagu berjudul “Kontroversi Hati” yang dinyanyikan oleh Junayla, saya baru tahu. Saya dengarkan lagunya pelan-pelan, dan sepertinya saya menyukai komposisi nada dan liriknya yang saya pikir lucu dan somehow membuat saya merasa senang. Mendengarnya saya jadi mengingat lagi sekitar setengah tahun yang lewat, saat semua infotainment di media massa sedang hangat-hangatnya membahas phrases super yang diciptakan oleh Vicky Prasetyo. Sebenarnya saya sudah pernah membahas tentang Vicky Prasetyo sebelumnya, kalau tak salah di tulisan bulan September 2013 lalu. Saya juga teringat bagaimana berbagai komentar menyusul pemberitaan itu. Beberapa berkomentar pedas sekali, ucapkan betapa bodohnya Zaskia, seorang artis pendatang baru yang baru datang dari kampung dan hanya lulusan SD di salah satu desa di Karawang, ditipu oleh Vicky yang mengaku lulusan S3 dari Amerika. Saya masih ingat benar betapa stigma negatif juga melekat erat di sosok Zaskia sebagai seorang lulusan SD yang bodoh. Terus terang, saya tak terlalu suka dengan hal itu. Saya pikir itu bukan hal yang baik.

Bagi saya pendidikan adalah hal yang sangat baik. Sebuah hal yang patut untuk dikejar dengan kesungguhan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Tapi saya pikir, pendidikan tidak seharusnya digunakan untuk merendahkan siapapun. Saya pikir ini adalah sebuah penyelewangan besar terhadap hakikat pendidikan! Saya benar-benar tak pernah sepakat untuk melihat seseorang dari tingkat pendidikannya. Saya menemukan banyak orang dengan pendidikan (sebutlah) rendah dengan kepribadian yang sangat baik, dan tak sedikit pula menemukan hal sebaliknya. “Lalu untuk apa?”, seringkali saya bertanya sendiri seperti itu.

Adalah beberapa hal yang mungkin sudah beberapa kali saya utarakan pada beberapa kawan dekat dan pada seorang gadis yang sangat menarik itu. Bahwa nanti bila saya memiliki keturunan, seseorang yang menjadi salah satu tanggung jawab terbesar dalam hidup saya, maka saya memiliki sedikit cita-cita untuknya. Sebuah tujuan hidup dan cita-cita sederhana yang saya harap bisa dia tepati nanti dengan jalan pikirannya sendiri. Semoganya benar bisa begitu. Dan mungkin isinya sedikit-banyak adalah begini:

Hai kawan, mungkin aku adalah salah satu orang yang paling bertanggung jawab tentangmu. Bila kamu ingin tahu, sebenarnya aku punya sebuah kalimat sederhana untukmu: bila kamu tumbuh besar nanti, sepertinya aku tak akan pernah mendoakanmu untuk menjadi seorang yang pintar, kaya, masyhur, rupawan. Satu hal yang akan selalu kudoakan adalah agar kamu menjadi seorang yang baik. Agar kamu menjadi seorang yang baik. Hanya itu saja. Dan bila nyatanya nanti kamu tumbuh sebagai seorang yang pintar, kaya dan rupawan, sebenarnya bagiku itu hanya sebuah bonus-bonus kecil yang menyenangkan. Dan semoga kamu bisa menikmatinya.

Hah, mungkin ini adalah sesuatu yang terlalu jauh. Dan mungkin saja saya salah untuk berbicara seperti ini. Tapi saya pikir ini adalah hal yang baik. Bila nanti nyatanya saya lupa menyampaikannya, mungkin tulisan ini adalah suatu hal yang bisa menggantikannya. Ah, sebenarnya ini hanyalah sesuatu yang sederhana. Sebuah keinginan sekaligus doa yang sederhana, yang mungkin belum bisa saya jalankan seorang diri.

Cikarang, 5 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar