Sabtu, 22 Maret 2014

Malam di Pesawahan

Di luar hujan, dan waktu sudah lewat banyak dari tengah malam. Saya suka mendengar suaranya, rintik air, dan tiup angin menuju lorong yang ini. Dengar suara Alexi Murdoch yang pelan-pelan terus nyanyikan album Towards The Sun-nya yang harmonis, saya menyandar di dinding barat. Teringat kini pada beberapa kejadian kemarin-kemarin atau dulu sekali. Atau setidaknya di dalam minggu yang kemarin, saat berdua dengan seorang kawan, kami berbicara tentang hal yang mungkin tak menarik bagi kebanyakan orang. Dia memulainya dengan sebuah cerita menarik, pengalaman masa kecilnya yang dia anggap sakral. Hingga akhirnya sore ini dia mau berbagi, saya mendengarkan. Saya dengarkan yang baik.

***
“Dulu, di penghujung suatu sore, saya tengah membawakan sesuatu untuk bapak di sawah. Ya, bapak saya adalah seorang petani, dia giat sekali bekerja, memelihara padi di beberapa kotak sawah milik kami. Dan entah bagaimana, saat itu, bapak meminta saya untuk menunggu dulu sejenak di pondok sederhananya yang tak beratap itu, tempat bapak biasa beristirahat setelah lepas bekerja. Janjinya dia akan segera kembali. Saya sendiri di suasana awal malam di tengah pesawahan luas itu. Tak banyak suara yang terdengar, saya terlentang di lantai pondok memandang ke hamparan langit luas dan formasi bintang-bintang yang memukau.

Kalau tak salah ingat, saya masih duduk di sekolah dasar, mungkin kelas 4-5, saya tak terlalu ingat. Dan pikiran saya masih sangat terbatas saat itu. Tak banyak yang saya lamunkan, tapi melihat bintang-bintang yang sebegitu banyak di langit gelap, membuat saya merasa sedikit aneh. Detik itu saya merasakan pikiran saya melesat hingga ke langit, mendekati bintang-bintang, melihat ruang yang seperti hampa dan sepi sekali. Saya tak berbohong, saat itu saya seperti merasakan bahwa saya seperti menembus sebuah pembatas yang tak tampak. Dan tepat setelah itu, saya merasa sangat kecil di tengah semesta. Saya menanyakan konsep ketuhanan. Tiba-tiba saya merasa takut, takut sekali. Seketika saya langsung berusaha menyadarkan diri, dan akhirnya pikiran saya kembali ke tengah pesawahan itu. Meringkuk di lantai, saya cemas. Saya sangat takut. Saya bertanya setengah berteriak di dalam hati, kenapa bapak lama sekali?”

***
Saya tertegun sejenak, ekspresi kawan tersebut hidup sekali, matanya berbinar besar. Saya tahu, dia tengah mencoba kembali ke salah satu pengalaman paling sakral yang pernah dialaminya. Lanjut kini dia terdiam sebentar, menyudahi ceritanya. Saya tersenyum dan memberikan tanggapan yang mungkin juga sedikit panjang. Saya menilai sayang sekali hal itu dialaminya saat dia masih terlalu kecil, atau setidaknya saat dia belum banyak memiliki pengalaman berpikir tentang dunia riil yang lebih dalam sebelumnya. Dan saya tak heran mengapa dia menjadi takut karenanya. Saya pikir itu melahirkan trauma. Hingga akhirnya sampai sekarang dia tak mau mencobanya lagi.

Mungkin hanya akan ada sedikit orang yang percaya bila saya katakan bahwa saya sering mengalami hal seperti itu. Saat melihat matahari sore yang beranjak turun, saat melihat rintik hujan yang jatuh di sebuah teras, saat ditiup angin besar di halaman kantor, saat berjalan di antara keramaian pekerja pabrik yang bergegas masuk, saat melihat sebuah petir besar melintas di hadapan, atau beberapa kali yang lain. Tapi itu tak melulu tentang ketuhanan, saya yakin sekali. Dan sensasinya itu sangat menyenangkan. Di beberapa tulisan yang saya buat, biasanya saya menyebutnya dengan kata “orgasme”. Ya seperti itu. Sebuah kata yang menggambarkan puncak rasa nyaman, nyaman sekali. Seperti tak jarang kita menjumpai seseorang yang sangat suka melihat laut, gunung, purnama, dan mereka tahan untuk menatapnya hingga berjam-jam. Ya, saya pikir mungkin mirip seperti itu.

Dan saya tahu, yang kawan itu ucapkan sebagai “menembus pembatas yang tak tampak” adalah sebuah batas yang memisahkan dunia riil dengan dunia pikiran. Hal itu seperti keluar dari sebuah gelembung transparan lalu kini berada di luarnya. Dan saat itulah putaran waktu akan menjadi sangat lambat. Karena kita tahu, kecepatan berpikir itu jauh lebih cepat dari kecepatan fisik. Seperti melewati kecepatan cahaya sekalipun. Di situ kita bisa melihat semua yang terjadi di dunia rill menjadi sangat lambat, lambat sekali. Saya pikir itulah yang terjadi. Tapi saya yakinkan satu hal pada kawan tersebut, bahwa tak ada yang perlu ditakutkan dari hal itu. Saya pikir manusia memang dianugrahkan kemampuan untuk bisa seperti itu, dan itu normal sekali. Normal sekali. Meski kadang, seiring waktu, kita sering menepikannya karena menganggap hal itu adalah sesuatu yang tak normal. Padahal tidak, saya yakin sekali tidak.

Seperti pertanyaan yang lain: “mengapa kita merasa jauh lebih bahagia saat kita masih kecil dulu?” Saat masih kanak-kanak, kita tak pernah tertarik untuk membatasi sesuatu sebagia normal atau tidak. Saat beranjak besar, kita lebih membatasi diri. Dan saya pikir, sebenarnya yang kita batasi itu adalah kemampuan dan keinginan untuk berpikir. Saya meyakini: dalam konteks berpikir, tumbuh dewasa tak menjadikan pikiran seseorang menjadi progresif. Meski kontrol terhadap konsep dunia riil menjadi lebih matang, tapi saya pikir tumbuh dewasa adalah sebuah kemunduran dari kemampuan mengetahui siapa kita sebenarnya di antara yang lain. Ini adalah sebuah hipotesis!
Terima kasih untuk Imam Kusnadi atas ceritanya, bagus sekali. ;)
Cikarang, 23 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar