Di luar hujan, dan waktu sudah lewat banyak dari tengah
malam. Saya suka mendengar suaranya, rintik air, dan tiup angin menuju lorong
yang ini. Dengar suara Alexi Murdoch yang pelan-pelan terus nyanyikan album Towards The Sun-nya yang harmonis, saya
menyandar di dinding barat. Teringat kini pada beberapa kejadian kemarin-kemarin
atau dulu sekali. Atau setidaknya di dalam minggu yang kemarin, saat berdua
dengan seorang kawan, kami berbicara tentang hal yang mungkin tak menarik bagi
kebanyakan orang. Dia memulainya dengan sebuah cerita menarik, pengalaman masa
kecilnya yang dia anggap sakral. Hingga akhirnya sore ini dia mau berbagi,
saya mendengarkan. Saya dengarkan yang baik.
***
“Dulu, di penghujung suatu sore, saya tengah membawakan
sesuatu untuk bapak di sawah. Ya, bapak saya adalah seorang petani, dia
giat sekali bekerja, memelihara padi di beberapa kotak sawah milik kami. Dan entah
bagaimana, saat itu, bapak meminta saya untuk menunggu dulu sejenak di pondok sederhananya yang
tak beratap itu, tempat bapak biasa beristirahat setelah lepas bekerja. Janjinya dia akan segera
kembali. Saya sendiri di suasana awal malam di tengah pesawahan luas itu. Tak banyak
suara yang terdengar, saya terlentang di lantai pondok memandang ke hamparan langit luas
dan formasi bintang-bintang yang memukau.
Kalau tak salah ingat, saya masih duduk di sekolah dasar,
mungkin kelas 4-5, saya tak terlalu ingat. Dan pikiran saya masih sangat terbatas saat itu. Tak banyak
yang saya lamunkan, tapi melihat bintang-bintang yang sebegitu banyak di langit
gelap, membuat saya merasa sedikit aneh. Detik itu saya merasakan pikiran saya
melesat hingga ke langit, mendekati bintang-bintang, melihat ruang yang seperti
hampa dan sepi sekali. Saya tak berbohong, saat itu saya seperti merasakan
bahwa saya seperti menembus sebuah pembatas yang tak tampak. Dan tepat setelah
itu, saya merasa sangat kecil di tengah semesta. Saya menanyakan konsep
ketuhanan. Tiba-tiba saya merasa takut, takut sekali. Seketika saya langsung
berusaha menyadarkan diri, dan akhirnya pikiran saya kembali ke tengah pesawahan itu. Meringkuk di
lantai, saya cemas. Saya sangat takut. Saya bertanya setengah berteriak di
dalam hati, kenapa bapak lama sekali?”
***
Saya tertegun sejenak, ekspresi kawan tersebut hidup sekali,
matanya berbinar besar. Saya tahu, dia tengah mencoba kembali ke salah satu
pengalaman paling sakral yang pernah dialaminya. Lanjut kini dia terdiam
sebentar, menyudahi ceritanya. Saya tersenyum dan memberikan tanggapan yang
mungkin juga sedikit panjang. Saya menilai sayang sekali hal itu dialaminya saat
dia masih terlalu kecil, atau setidaknya saat dia belum banyak memiliki
pengalaman berpikir tentang dunia riil yang lebih dalam sebelumnya. Dan saya tak heran mengapa dia
menjadi takut karenanya. Saya pikir itu melahirkan trauma. Hingga akhirnya sampai sekarang dia
tak mau mencobanya lagi.
Mungkin hanya akan ada sedikit orang yang percaya bila saya
katakan bahwa saya sering mengalami hal seperti itu. Saat melihat matahari sore yang beranjak turun,
saat melihat rintik hujan yang jatuh di sebuah teras, saat ditiup angin besar di
halaman kantor, saat berjalan di antara keramaian pekerja pabrik yang bergegas
masuk, saat melihat sebuah petir besar melintas di hadapan, atau beberapa kali
yang lain. Tapi itu tak melulu tentang ketuhanan, saya yakin sekali. Dan sensasinya
itu sangat menyenangkan. Di beberapa tulisan yang saya buat, biasanya saya
menyebutnya dengan kata “orgasme”. Ya seperti itu. Sebuah kata yang
menggambarkan puncak rasa nyaman, nyaman sekali. Seperti tak jarang kita menjumpai seseorang yang sangat suka melihat laut, gunung, purnama, dan mereka tahan untuk menatapnya hingga berjam-jam. Ya, saya pikir mungkin mirip seperti itu.
Dan saya tahu, yang kawan itu ucapkan sebagai “menembus
pembatas yang tak tampak” adalah sebuah batas yang memisahkan dunia riil dengan
dunia pikiran. Hal itu seperti keluar dari sebuah gelembung transparan lalu kini
berada di luarnya. Dan saat itulah putaran waktu akan menjadi sangat lambat. Karena
kita tahu, kecepatan berpikir itu jauh lebih cepat dari kecepatan fisik. Seperti melewati kecepatan cahaya sekalipun. Di situ kita bisa melihat semua yang terjadi di dunia rill menjadi sangat lambat, lambat
sekali. Saya pikir
itulah yang terjadi. Tapi saya yakinkan satu hal pada kawan tersebut, bahwa tak ada yang
perlu ditakutkan dari hal itu. Saya pikir manusia memang dianugrahkan
kemampuan untuk bisa seperti itu, dan itu normal sekali. Normal sekali. Meski kadang,
seiring waktu, kita sering menepikannya karena menganggap hal itu adalah
sesuatu yang tak normal. Padahal tidak, saya yakin sekali tidak.
Seperti pertanyaan yang lain: “mengapa kita merasa jauh lebih bahagia saat kita masih kecil dulu?”
Saat masih kanak-kanak, kita tak pernah tertarik untuk membatasi sesuatu
sebagia normal atau tidak. Saat beranjak besar, kita lebih membatasi diri. Dan saya
pikir, sebenarnya yang kita batasi itu adalah kemampuan dan keinginan untuk berpikir.
Saya meyakini: dalam konteks berpikir, tumbuh dewasa tak menjadikan pikiran seseorang
menjadi progresif. Meski kontrol terhadap konsep dunia riil menjadi lebih
matang, tapi saya pikir tumbuh dewasa adalah sebuah kemunduran dari kemampuan
mengetahui siapa kita sebenarnya di antara yang lain. Ini adalah sebuah
hipotesis!
Terima kasih untuk Imam Kusnadi atas ceritanya, bagus sekali. ;)
Cikarang, 23 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar