Sore di langit albasia hari itu |
Setelah melalui hari itu dengan cerita yang asik, akhirnya
saung di tengah kebun albasia kecil-kecilan itu jadi tujuan di awal sorenya yang
cerah. Bersama seorang kawan baik yang sangat senang tertawa, saya menjalani harinya.
Hingga akhirnya langkah kami benar sampai di bawah teduh baris albasia, dan seduh
kopi-kopi yang masih panas. Membuka sedikit perbekalan dan seorang kawan yang
lain tiba-tiba saja mampir sejenak memberi kami makanan seadanya lalu pergi lagi. Itu tape ketan
hitam, satu sisir pisang ambon, aneka kerupuk, dan dia pergi lagi. Saya tersenyum
melihatnya, kiranya rejeki itu datang dari cerita-cerita yang tak terduga
memang. Selepasnya pergi, saya melamun sejenak. Untuk kemudian tersadar dan bangun
lagi saat tawa si kawan baik memecah sore di sini. Kami bicara lagi.
Saya pikir saya suka bercerita dan mendengarkan, dan tentang apa
saja. Terlebih dengan kawan yang ini. Saya sangat suka mendengar dia menertawakan
saya sampai terpingkal. Juga senang saat dia mendengarkan cerita saya tentang
apapun. Kadang penting, kadang sama sekali tidak, tapi saya pikir dia
menganggap itu bukan masalah, jadi saya senang-senang saja. Bikin saya semakin
senang bercerita. Atau mengingat cerita-cerita jenaka dulu saat kami masih jauh
lebih muda dari sekarang ini. Kami berlomba saling menertawakan. Seperti saat
ini, saat sore yang ini sudah hampir masuk di penghujungan, dan kami masih duduk
bersantai mendengar jerit jangkrik yang mulai terbangun serta desau angin sore yang
mulai sepi menggesek dedaunan. Kami masih tak putus cerita, seperti lalu takjubnya
dia melihat tangkai dedaun albasia mulai menutup, seperti layu, padahal tidak. Kemudian
dia berkomentar, “wah canggih sekali tanaman ini!”, saya tertawa. Hingga detik
berikutnya kami mulai merasa hari sudah terlalu sore. Kami melangkah juga,
pulang ke rumah.
Bandung,6 Oktober 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar