Selasa, 08 Oktober 2013

Baris Tawa Bawah Albasia

Sore di langit albasia hari itu
Setelah melalui hari itu dengan cerita yang asik, akhirnya saung di tengah kebun albasia kecil-kecilan itu jadi tujuan di awal sorenya yang cerah. Bersama seorang kawan baik yang sangat senang tertawa, saya menjalani harinya. Hingga akhirnya langkah kami benar sampai di bawah teduh baris albasia, dan seduh kopi-kopi yang masih panas. Membuka sedikit perbekalan dan seorang kawan yang lain tiba-tiba saja mampir sejenak memberi kami makanan seadanya lalu pergi lagi. Itu tape ketan hitam, satu sisir pisang ambon, aneka kerupuk, dan dia pergi lagi. Saya tersenyum melihatnya, kiranya rejeki itu datang dari cerita-cerita yang tak terduga memang. Selepasnya pergi, saya melamun sejenak. Untuk kemudian tersadar dan bangun lagi saat tawa si kawan baik memecah sore di sini. Kami bicara lagi.

Saya pikir saya suka bercerita dan mendengarkan, dan tentang apa saja. Terlebih dengan kawan yang ini. Saya sangat suka mendengar dia menertawakan saya sampai terpingkal. Juga senang saat dia mendengarkan cerita saya tentang apapun. Kadang penting, kadang sama sekali tidak, tapi saya pikir dia menganggap itu bukan masalah, jadi saya senang-senang saja. Bikin saya semakin senang bercerita. Atau mengingat cerita-cerita jenaka dulu saat kami masih jauh lebih muda dari sekarang ini. Kami berlomba saling menertawakan. Seperti saat ini, saat sore yang ini sudah hampir masuk di penghujungan, dan kami masih duduk bersantai mendengar jerit jangkrik yang mulai terbangun serta desau angin sore yang mulai sepi menggesek dedaunan. Kami masih tak putus cerita, seperti lalu takjubnya dia melihat tangkai dedaun albasia mulai menutup, seperti layu, padahal tidak. Kemudian dia berkomentar, “wah canggih sekali tanaman ini!”, saya tertawa. Hingga detik berikutnya kami mulai merasa hari sudah terlalu sore. Kami melangkah juga, pulang ke rumah.
Bandung,6 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar