Rabu, 30 Oktober 2013

Nyanyian Krakatau

Duduk-berdiri di atas sebuah kapal motor bertulis KM Timbul Cahaya itu, kau berkontemplasi pada riak laut yang bergerak pada tiup-tiup angin yang entah dari mana saja. Juga garisan cahaya mentari di penghujung suatu sore menabrak-nabrak wajahmu segenap beringas. Kau tak menepi, tetap tenggelam dalam alir pikiran yang mengalir sejauh matamu memandang dan horizon yang lekat-lekat di jauh sana. Kau mau kemana?

Gugusan Krakatau memanggilmu. Datang jauh dari pulau lain di seberang sana, tapi tanyamu tak pernah terjawab meski sudah sampai di sini. Kau carilah mereka di antara 1.001 cerita di sekitar. Itu pula tarian ikan-ikannya aneka warna menari bebas yang dapatlah kau lihat dari atas sini, atau pada pekik nyaring gerombol burung-burung laut yang sesekali lewat tadi. Berikut bayu basah redamkan ceritamu biar jangan kemana-mana. Tapi nyatanya kau tak puas. Marah sendiri karena pertanyaanmu tak kunjung terjawab kini. Kau mau apa?

Diam di sana, kau pejamkan mata. Baurkan semua tanya pada sore laut Krakatau yang mulai tenang menanti tenggelam surya kembali ke rumah. Semedikan 1.001 alasan yang terpikir, baringkan 1.000.000 penjelasan yang tak pernah terpikir, bahkan mungkin tak kan pernah kau mengerti. Seperti sesederhana jawaban: Kau tak mau apa dan kemana-mana! Toh lanjut kau bertanya lagi, kalau begitu kau hanya datang saja? Benarkah seperti itu? Seperti sebenarnya tak ada yang mengundangmu untuk datang melihat sang surya yang tinggal separuh ditelan laut Krakatau sore ini? Kau pasti tak sepakat!!!
Lampung-Cikarang, sepanjang 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar