
Sore itu, sebelum akhirnya kami sampai di Gerbang Atas UPI
dan bertemu Acong van Bram yang sedang asik bersantai di pinggir jalan sambil
menikmati sebatang rokok kreteknya yang sudah hampir habis setengah, saya dan
seorang kawan telah selesai membelah Bandung utara melewati suatu rute yang menurut saya tak biasa.
Menurut saya, jalan di rute itu sedikit tak umum. Bahkan sepertinya tak semua
orang tahu bahwa di dalam kota Bandung ternyata masih ada jalan yang seperti itu. Jalan sempit
yang lebarnya pasti tak lebih dari 2 meter berikut rumput liar di pinggirannya yang sudah terlalu tinggi, kanan-kirinya berbatas tembok beton
setinggi 2 meter-an, tanjakan-turunan ekstrim bersudut 45 derajat atau lebih
dan berliku, memanjang sepi di bawah rimbun rumpun bambu dan pohon-pohon liar beraneka jenis.
Langit sudah lebih gelap waktu itu, Bandung mendung dan baru sudah diguyur hujan raya, bikin lebih gelaplah jalanan itu. Saya berpikir cemas sendiri. Saya
ucapkan berulang ke kawan yang tetap asik mengendalikan sepeda motor matic warna pink nya itu tentang apa yang saya pikirkan, tapi dia senyum-senyum
saja. Tak terlihat raut cemas di wajahnya, ya, mungkin dia sudah biasa lewat di
sini. Yang sayangnya, waktu itu saya tak sempat memfoto jalanan itu, karena batere
kamera saya tersisa tak lebih dari 5 % saja. Lepas dari jalanan itu, akhirnya
kami tibalah di satu tempat yang lebih terbuka. Saya tak terlalu sadar,
bahwa ternyata saat itu kami sudah tiba di daerah puncak Cipaku. Seingat saya,
dulu saya pernah ke sini sekali, tapi entah kapan waktu persisnya.
Dan di puncak itu, seiring sautan takbir menyambut Hari Raya
Qurban di berbagai penjuru, kami berhenti sejenak. Saya buka dan keluarkan kamera
dari dalam ransel hijau bertulis “deuter” itu. Niatnya, saya ingin tanggung
habiskan saja batere kameranya, mengambil beberapa gambar dari puncak sini. Dan dapatlah
beberapa. Tapi sepertinya saya lebih tertarik untuk mengunggah foto yang ini saja. Meski gambarnya
tak terlihat fokus kemana-mana, ditambah arahan gaya yang kurang saya sukai
sebenarnya (hahaa) dan rambut kering yang awut-awutan itu, tapi foto ini adalah foto pertama yang diambil oleh kawan
tersebut. Ini adalah kali pertama dia belajar mengoperasikan kamera saya ini. Jadi
saya pikir gambar ini menarik. Berikut pula cerita di belakangnya saat saya mengikuti
semua arahan gaya yang dia berikan, dan dia terlihat senang sekali waktu itu. :)
Tak masalah bagi kami hasil gambarnya akan jadi bagus atau tidak, itu hanya
bonus! :)
Cikarang, 24 Oktober 2013
*foto oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana
Ini Ayah waktu masih mudo,,, persis lekuk-lekuk wajahnyoo,,, :),,, Pffuhh, Dear,,, You are,,, :*
BalasHapusiyo yo, mirip ayah. :D ;)
BalasHapusTapi tanganny belum sebesar tangan ayah dulu dak? Ahahaa. Adek latihan lagi kalo cak itu. :))
BalasHapusheu,,, iyoo,,, dulu tangan Ayah masih langsing,,, :D
BalasHapusGambarnya bagus dek Guntur, sayang pastinya bukan engkau yg bidik. Dede Althea mau diekahkan minggu depan 03 Nov, datang ke rumah ya, pasti ada hidangan satai dan gulai kambing bikinan Ibu mertua.
BalasHapus@liska: yo besakla tangan ayah dulu lah dari tangan adek ini, ahahaaa
BalasHapus@kang asep: siap kang, saya datang! ^^