Kamis, 24 Oktober 2013

Belajar di Cipaku

Sore itu, sebelum akhirnya kami sampai di Gerbang Atas UPI dan bertemu Acong van Bram yang sedang asik bersantai di pinggir jalan sambil menikmati sebatang rokok kreteknya yang sudah hampir habis setengah, saya dan seorang kawan telah selesai membelah Bandung utara melewati suatu rute yang menurut saya tak biasa. Menurut saya, jalan di rute itu sedikit tak umum. Bahkan sepertinya tak semua orang tahu bahwa di dalam kota Bandung ternyata masih ada jalan yang seperti itu. Jalan sempit yang lebarnya pasti tak lebih dari 2 meter berikut rumput liar di pinggirannya yang sudah terlalu tinggi, kanan-kirinya berbatas tembok beton setinggi 2 meter-an, tanjakan-turunan ekstrim bersudut 45 derajat atau lebih dan berliku, memanjang sepi di bawah rimbun rumpun bambu dan pohon-pohon liar beraneka jenis. Langit sudah lebih gelap waktu itu, Bandung mendung dan baru sudah diguyur hujan raya, bikin lebih gelaplah jalanan itu. Saya berpikir cemas sendiri. Saya ucapkan berulang ke kawan yang tetap asik mengendalikan sepeda motor matic warna pink nya itu tentang apa yang saya pikirkan, tapi dia senyum-senyum saja. Tak terlihat raut cemas di wajahnya, ya, mungkin dia sudah biasa lewat di sini. Yang sayangnya, waktu itu saya tak sempat memfoto jalanan itu, karena batere kamera saya tersisa tak lebih dari 5 % saja. Lepas dari jalanan itu, akhirnya kami tibalah di satu tempat yang lebih terbuka. Saya tak terlalu sadar, bahwa ternyata saat itu kami sudah tiba di daerah puncak Cipaku. Seingat saya, dulu saya pernah ke sini sekali, tapi entah kapan waktu persisnya.

Dan di puncak itu, seiring sautan takbir menyambut Hari Raya Qurban di berbagai penjuru, kami berhenti sejenak. Saya buka dan keluarkan kamera dari dalam ransel hijau bertulis “deuter” itu. Niatnya, saya ingin tanggung habiskan saja batere kameranya, mengambil beberapa gambar dari puncak sini. Dan dapatlah beberapa. Tapi sepertinya saya lebih tertarik untuk mengunggah foto yang ini saja. Meski gambarnya tak terlihat fokus kemana-mana, ditambah arahan gaya yang kurang saya sukai sebenarnya (hahaa) dan rambut kering yang awut-awutan itu, tapi foto ini adalah foto pertama yang diambil oleh kawan tersebut. Ini adalah kali pertama dia belajar mengoperasikan kamera saya ini. Jadi saya pikir gambar ini menarik. Berikut pula cerita di belakangnya saat saya mengikuti semua arahan gaya yang dia berikan, dan dia terlihat senang sekali waktu itu. :) Tak masalah bagi kami hasil gambarnya akan jadi bagus atau tidak, itu hanya bonus! :)
Cikarang, 24 Oktober 2013
*foto oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana

6 komentar:

  1. Ini Ayah waktu masih mudo,,, persis lekuk-lekuk wajahnyoo,,, :),,, Pffuhh, Dear,,, You are,,, :*

    BalasHapus
  2. Tapi tanganny belum sebesar tangan ayah dulu dak? Ahahaa. Adek latihan lagi kalo cak itu. :))

    BalasHapus
  3. heu,,, iyoo,,, dulu tangan Ayah masih langsing,,, :D

    BalasHapus
  4. Gambarnya bagus dek Guntur, sayang pastinya bukan engkau yg bidik. Dede Althea mau diekahkan minggu depan 03 Nov, datang ke rumah ya, pasti ada hidangan satai dan gulai kambing bikinan Ibu mertua.

    BalasHapus
  5. @liska: yo besakla tangan ayah dulu lah dari tangan adek ini, ahahaaa
    @kang asep: siap kang, saya datang! ^^

    BalasHapus